Nama Dusun Pentil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kerap memicu tawa bagi masyarakat yang baru mendengarnya.
Namun, penamaan wilayah ini rupanya memiliki latar sejarah unik dan tidak mengandung konotasi negatif.
>>> Bocah 12 Tahun Tewas Tenggelam Saat Berenang di Sungai Cisasah Bogor
Dusun yang berlokasi di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori ini merupakan bagian dari enam dukuhan. Selain Pentil, terdapat lima dukuh lainnya yaitu Gobog, Nganguk, Mulo, Pendem, dan Ngumpleng.
Seluruh nama tersebut merupakan warisan leluhur yang tetap dipertahankan masyarakat hingga kini.
Analogi Pertumbuhan Ekonomi
Perangkat Desa Gunungsari, Sumijan, menjelaskan bahwa asal-usul penamaan tersebut tidak merujuk pada organ tubuh.
Istilah itu lahir dari kilas balik kondisi perekonomian masyarakat pada masa lampau yang sulit berkembang.
Para pendahulu membuat analogi kondisi sulit tersebut dengan pertumbuhan bakal buah yang masih berukuran sangat kecil, yang dalam bahasa Jawa disebut pentil.
Setiap kali roda usaha warga mulai memperlihatkan kemajuan, situasinya mendadak lesu kembali seperti semula.
Fase stagnan yang berulang-ulang inilah yang mendasari penamaan kawasan pemukiman tersebut. "Diibaratkan seperti tanaman yang mau berbuah.
Sudah pentil, tetapi tidak bisa berkembang besar, lalu seperti pentil lagi. Begitu terus.
>>> Minat Menabung Masyarakat Indonesia Meningkat Didorong Perbaikan Ekonomi
Dari situ kemudian disebut Pentil," ujar Sumijan.
Meskipun penamaannya kerap dijadikan bahan gurauan orang luar, penduduk setempat mengaku tidak ambil pusing. Sumijan menyatakan telah terbiasa menerima candaan serupa sejak usia sekolah.
Ungkapan seperti "Nganguk-Pentil Sewu" yang merupakan gabungan nama dua dukuh bertetangga sudah biasa didengar.
Rasa hormat terhadap sejarah membuat warga lokal enggan mengubah identitas wilayah mereka. Nama yang disandang saat ini dianggap sebagai warisan sakral dari generasi pendahulu.
Pasar Pentil dan Tradisi Ritual
Selain keunikan sejarah namanya, wilayah ini juga menyimpan tradisi kultural yang kuat melalui Pasar Pentil.
Pasar tradisional ini tidak hanya terbatas pada transaksi perdagangan, tetapi juga memegang peranan simbolis dalam pemenuhan ritual nazar atau kenduri.
Warga yang memiliki permohonan khusus kerap berjanji menggelar syukuran jika impian mereka terwujud. Salah satu syarat mutlak ritual tersebut adalah menyajikan jajanan yang dibeli dari Pasar Pentil.
Ritual adat ini sudah berlangsung lintas generasi dan masih terus lestari, bahkan menarik minat warga dari luar wilayah Gunungsari.
>>> Tecno Spark 50 Pro Meluncur: Bodi Ramping, Kamera 50 MP, dan IP69
Kepercayaan warga sekitar terhadap ritual ini dibenarkan oleh warga desa tetangga yang pernah melaksanakannya.