Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memimpin rapat kebijakan moneter pertamanya pada Rabu (17/6/2026) waktu Amerika Serikat.
Rapat ini menentukan arah suku bunga acuan di tengah situasi ekonomi yang rumit.
>>> Menhub Pastikan Stasiun Gambir Direvitalisasi Jadi Hub Nasional
Pelaku pasar menanti sinyal apakah bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi atau mulai membuka ruang penurunan.
Ekonom UBS Jonathan Pingle menilai keputusan dan pernyataan dalam pertemuan ini akan sangat memengaruhi pasar obligasi.
"Kami memperkirakan konferensi pers akan menjadi sangat penting," tulis Pingle dalam catatan riset.
Ia menambahkan bahwa publik belum mengetahui secara pasti arah kebijakan moneter pemimpin baru bank sentral tersebut.
"Ini akan menjadi penampilan publik pertama Kevin Warsh sebagai Ketua. Kami sebenarnya tidak tahu apa pandangan kebijakannya," ujar Pingle.
Posisi Warsh dinilai dilematis karena inflasi AS melonjak ke level 4,2 persen akibat kenaikan harga bensin. Sementara itu, sektor lapangan kerja justru meningkat signifikan sejak awal tahun.
Mantan ekonom senior The Fed William English menyarankan bank sentral untuk mengamati perkembangan ekonomi terlebih dahulu.
"Hal yang tepat untuk dilakukan sekarang adalah menunggu dan melihat," kata ekonom Yale School of Management tersebut.
English juga mengingatkan risiko politik yang membayangi independensi bank sentral.
"Setidaknya ada risiko di sini bahwa enam bulan ke depan, Trump akan mengamuk karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari Warsh, dan ia ingin memecat Warsh," katanya.
Presiden Donald Trump sebelumnya melunakkan tuntutan pemangkasan suku bunga dan memberikan kebebasan penuh kepada Warsh.
>>> MPR Sambut Pengesahan UU PPRT dan Peta Jalan Ekonomi Perawatan
"Kevin fantastis dan saya ingin dia melakukan apa pun yang dia inginkan," kata Trump.
Meski membebaskan Warsh, Trump tetap memberikan batasan mengenai kebijakan pengetatan moneter lebih lanjut. "Tidak ada alasan untuk menaikkan suku bunga," tegas Trump.
Perubahan gaya kepemimpinan diprediksi terjadi di bawah kendali Warsh yang dikenal menjadikan Alan Greenspan sebagai panutannya.