⌂ Beranda News Dokter Ingatkan Bahaya Jamu Penggemuk Badan yang Mengandung Kortikosteroid

Dokter Ingatkan Bahaya Jamu Penggemuk Badan yang Mengandung Kortikosteroid

Dokter Ingatkan Bahaya Jamu Penggemuk Badan yang Mengandung Kortikosteroid
Ilustrasi jamu tradisional yang mengandung kortikosteroid
A A Ukuran Teks16px

Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap produk jamu yang menjanjikan efek instan, terutama jamu penggemuk badan. Produk semacam itu berpotensi mengandung bahan kimia obat tersembunyi yang berbahaya.

Salah satu zat kimia yang kerap ditemukan pada jamu ilegal adalah kortikosteroid. Zat ini sebenarnya merupakan golongan obat keras yang penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.

>>> Omoway Luncurkan Skuter Listrik Omo X dengan Teknologi Self-Balancing

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. (Cand. ) dr. Inggrid Tania, M.

Si, menjelaskan bahwa banyak orang tergiur menggunakan jamu penggemuk untuk menaikkan berat badan secara cepat.

Namun, lonjakan berat badan tersebut belum tentu menandakan tubuh lebih sehat. Kortikosteroid dalam jamu dapat memicu nafsu makan berlebih sehingga berat badan melonjak drastis.

Situasi ini kerap menimbulkan persepsi keliru di masyarakat bahwa produk tersebut sangat manjur. Padahal, efek instan itu berasal dari bahan kimia obat yang dilarang dalam jamu tradisional.

Masyarakat umumnya tidak menyadari keberadaan bahan kimia tersebut karena tidak tercantum pada label kemasan. Akibatnya, konsumen terus mengonsumsi produk tanpa mengetahui risikonya.

"Konsumen sering merasa tubuhnya lebih enak atau berat badannya naik, padahal bisa saja ada kandungan bahan kimia obat di dalamnya," ujar dr. Inggrid dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan RI, Selasa (16/6/2026).

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang tanpa kontrol dokter dapat memicu berbagai gangguan kesehatan berbahaya. Oleh karena itu, pencampuran zat ini ke dalam jamu merupakan persoalan serius.

Abaikan Testimoni dan Cek Legalitas Produk

Promosi jamu penggemuk badan kini marak di media sosial melalui testimoni pengguna. Dr. Inggrid mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada klaim tersebut jika hanya berdasarkan pengalaman personal.

>>> Premi Asuransi Pengangkutan Barang Turun 12,6 Persen pada Kuartal I-2026

Sebab, respons tubuh setiap individu berbeda dan klaim kesehatan itu belum teruji secara ilmiah. Publik harus lebih kritis sebelum membeli atau mengonsumsi produk herbal.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru