Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpeluang turun di Indonesia.
Proyeksi ini disampaikan pada Rabu (17/6/2026).
>>> Harga Emas Antam 18 Juni 2026 Bertahan di Rp 2.733.000 Per Gram
Peluang penurunan dipicu oleh merosotnya harga minyak mentah global setelah pengumuman kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta pembukaan Selat Hormuz.
Penurunan harga minyak mentah dunia mencapai sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa, menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Kondisi ini membuka jalan bagi Iran untuk kembali menyuplai minyak ke pasar global.
Data Reuters menunjukkan harga minyak mentah Brent merosot US$ 4,21 atau 5,1 persen ke level US$ 78,96 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga anjlok sebesar US$ 4,70 atau 5,8 persen menjadi US$ 76,05 per barel.
Sebagai perbandingan, sebelum konflik pecah pada 28 Februari, harga Brent berada di level US$ 72,48 per barel dan WTI sebesar US$ 67,02 per barel.
Pemerintah menegaskan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri akan selalu mengikuti harga keekonomian minyak global secara fluktuatif.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan, "Apakah harganya bisa turun? Pasti.
>>> Kongo Tumbangkan Dominasi Portugal di NRG Stadium
Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun."
Ia menjelaskan bahwa penyesuaian harga penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi di dalam negeri. "Kalau tidak ini akan mempengaruhi keberlanjutan pengadaan energi nasional," tambahnya.
Menurut Anggia, tren kenaikan harga BBM nonsubsidi sebenarnya sudah terjadi di berbagai negara tetangga.
Namun, pemerintah Indonesia sempat menahan penyesuaian harga demi menjaga daya beli masyarakat pada April lalu.
"Kita tahu April kemarin sesuai arahan Presiden pemerintah masih mencoba harga kestabilan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat," papar Anggia.
Ia kembali memastikan formulasinya akan konsisten mengikuti perkembangan pasar minyak internasional.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat. "Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun," ungkapnya.
Firman menambahkan bahwa melimpahnya pasokan global serta lancarnya jalur distribusi di Selat Hormuz pasca-perang menjadi faktor utama melandainya harga minyak saat ini.
>>> Inggris Kalahkan Kroasia 4-2 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
"Sebenarnya sebelum perang kondisi supply minyak di dunia itu sebenarnya sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya," terangnya.