Eurosatory, pameran dagang pertahanan terbesar di Prancis, kembali digelar di Villepinte, dekat Paris.
Acara dua tahunan ini diikuti lebih dari 2.000 peserta, termasuk pejabat militer, politisi, dan pelaku industri.
>>> Kakorlantas Polri Tegaskan Aturan Over Dimension Lebih Berat
Meskipun buku pesanan penuh dan pemerintah Eropa berencana mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat dengan investasi ratusan miliar euro, suasana kali ini dibayangi kekecewaan.
Proyek pertahanan paling ambisius Eropa, Future Combat Air System (FCAS), praktis runtuh setelah Jerman dan Prancis gagal mencapai kesepakatan.
Kegagalan FCAS dan Dampaknya pada MGCS
FCAS, program pesawat tempur generasi keenam yang diluncurkan pada 2017 oleh Presiden Macron dan Kanselir Merkel, kini terancam batal.
Komponen utamanya tidak akan dibangun sebagai proyek bersama, memicu kekhawatiran akan nasib proyek tank Main Ground Combat System (MGCS).
Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin menghindari topik tersebut dalam pidato pembukaan Senin (15/6). Namun, tanda-tanda kebuntuan semakin jelas, tidak hanya pada FCAS tetapi juga MGCS.
Kepala Rheinmetall, Armin Papperger, menyatakan Paris mungkin memangkas pendanaan MGCS secara drastis, meskipun belum ada keputusan final.
Ulrike Franke dari ECFR menilai peringatan itu serius, mengingat proyek tank telah berjalan lebih lambat dari FCAS.
Kementerian Pertahanan Jerman mengklaim kedua negara sepakat melanjutkan MGCS dengan pendekatan 'tidak bergantung pada platform'. Namun, apakah konsep tank tempur utama bersama masih relevan masih dipertanyakan.
Persaingan Industri dan Dominasi Jerman
Perbedaan kebutuhan militer menjadi salah satu hambatan.
Jerman menginginkan tank dengan perlindungan maksimal untuk menghadapi ancaman di sayap timur NATO, sementara Prancis menginginkan tank ringan untuk misi cepat.
>>> Turunkan Oktan BBM demi Hemat? ECU Motor Tidak Bisa Menyesuaikan
Namun, persoalan terbesar adalah persaingan industri.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius menyalahkan industri atas kegagalan FCAS, khususnya Dassault Aviation yang dianggap sulit diajak kerja sama.
Dalam proyek MGCS, Rheinmetall menjadi pemain dominan.
Perusahaan itu berhasil mendorong keterlibatannya dengan dukungan politik, menggeser keseimbangan kekuasaan yang sebelumnya dipegang KNDS, perusahaan patungan Prancis-Jerman.