⌂ Beranda News Konsumsi Listrik Asia Tenggara Melonjak Dipicu Penggunaan AC

Konsumsi Listrik Asia Tenggara Melonjak Dipicu Penggunaan AC

Konsumsi Listrik Asia Tenggara Melonjak Dipicu Penggunaan AC
Penggunaan AC di Asia Tenggara
A A Ukuran Teks16px

Pendingin ruangan atau air conditioner (AC) menjadi salah satu pendorong utama peningkatan konsumsi energi di Asia Tenggara.

Kenaikan suhu udara, intensitas gelombang panas yang meninggi, serta pertumbuhan pendapatan masyarakat memicu lonjakan penggunaan AC dalam sepuluh tahun terakhir.

>>> Korlantas Polri Luncurkan SIM Digital Lewat Aplikasi, Ini Cara Aktivasinya

Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 yang dirilis International Energy Agency (IEA) mengungkapkan bahwa jumlah AC rumah tangga di Asia Tenggara sudah meningkat dua kali lipat sejak 2015.

Angka tersebut diproyeksikan bakal melonjak hingga tiga kali lipat menjelang tahun 2035.

Kebutuhan terhadap pendinginan ruang kemudian menjelma sebagai motor utama dalam lonjakan konsumsi listrik regional.

Kondisi ini berlangsung di tengah transisi masif sistem energi Asia Tenggara yang kini memegang 4 persen produk domestik bruto (PDB) global pada 2024.

Sejak 2015, wilayah ini menyumbangkan 10 persen dari total pertumbuhan permintaan energi di dunia.

Total kebutuhan energi regional saat ini tercatat 40 persen lebih tinggi daripada tahun 2015, dengan kecepatan pertumbuhan rata-rata 4 persen per tahun.

Meski begitu, laju pertumbuhan kebutuhan listrik bergerak jauh lebih cepat daripada kebutuhan energi secara umum.

IEA mencatat konsumsi listrik di Asia Tenggara tumbuh rata-rata 6 persen per tahun sejak 2015, setara dua kali lipat rata-rata dunia.

Saat ini konsumsi listrik regional telah melewati 1.300 terawatt hour (TWh) dan mencakup lebih dari seperlima konsumsi energi final.

Peningkatan kebutuhan listrik ini tidak hanya bersumber dari sektor industri maupun transportasi, melainkan berpusat pada sektor bangunan, khususnya rumah tangga.

Menurut laporan IEA, penguatan pendapatan dan pertambahan penduduk mempercepat kepemilikan berbagai peralatan elektronik rumah tangga.

Sejak 2015, populasi lemari pendingin dan freezer bertambah 40 persen hingga menyentuh hampir 120 juta unit.

Sementara itu, tingkat kepemilikan mesin cuci terkerek naik 50 persen menjadi 90 juta unit.

Dampaknya, konsumsi listrik dari peralatan elektronik rumah tangga mencapai kisaran 200 TWh per tahun, atau melonjak hampir 60 persen dibanding 2015.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru