⌂ Beranda News Menyikapi Alarm Kecil Perundungan yang Kerap Diabaikan

Menyikapi Alarm Kecil Perundungan yang Kerap Diabaikan

Menyikapi Alarm Kecil Perundungan yang Kerap Diabaikan
Anak sekolah duduk murung di kelas
A A Ukuran Teks16px

Perundungan atau bullying sering kali dianggap remeh sebagai candaan, kenakalan, atau konflik biasa antar-anak.

Banyak pihak baru menyadari masalah ini ketika video viral, laporan polisi masuk, atau ada korban meninggal dunia.

>>> Pentagon Akui Chatbot AI Grok xAI Digunakan dalam Operasi Militer di Iran

Padahal, jauh sebelum mencapai titik tersebut, sudah ada banyak 'alarm kecil' yang diabaikan.

Anak yang malas sekolah karena takut, murid yang tiba-tiba diam dan menarik diri, atau peserta didik yang pulang dengan wajah murung dan cerita yang ditahan adalah beberapa contohnya.

Beberapa pekan terakhir, publik menyimak kasus siswa SMP di Tangerang Selatan yang meninggal setelah diduga berulang kali mengalami perundungan.

Di Jakarta Pusat, seorang bocah diminta memegang tiang listrik oleh dua remaja, lalu tersetrum hingga kejang, pingsan, bahkan sempat koma.

Di Bandung, murid yang berulang kali mendapat perlakuan kasar sesama teman memilih berhenti sekolah karena tak sanggup lagi masuk kelas.

Di Nusa Tenggara Barat, kekerasan di sebuah pesantren atas nama 'tradisi senioritas' berujung luka berat dan nyawa melayang.

Di Bekasi, seorang anak menjadi begitu takut setelah dipermalukan dan videonya tersebar, sampai merasa sekolah bukan lagi tempat yang aman.

Deret contoh ini bukan kebetulan, melainkan potret bagaimana kekerasan pelan-pelan tumbuh menjadi bagian dari keseharian.

Normalisasi Deviasi dan Dampaknya

Untuk memahami mengapa bullying bisa begitu mengakar, konsep normalisasi deviasi menarik untuk dibahas.

Deviasi adalah perilaku yang jelas menyimpang dari nilai yang seharusnya melindungi martabat dan keselamatan orang lain.

Normalisasi terjadi ketika deviasi itu begitu sering diulang dan dibiarkan, hingga tidak lagi terasa menyimpang.

Di sekolah, pukulan berubah jadi 'bumbu keakraban', ejekan disebut 'bahan bercanda', penghinaan dikemas sebagai 'latihan mental', dan tradisi senioritas dijadikan 'kebiasaan turun-temurun'.

Batas antara kenakalan dan kekerasan sengaja dikaburkan, terutama oleh orang dewasa yang nyaman dengan status quo.

Psikolog Albert Bandura menyebut proses ini sebagai belajar sosial: anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tapi dari apa yang mereka lihat.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru