Kematian peserta half marathon Agus Putranadi di BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 pada Minggu (14/6/2026) menyoroti risiko kesehatan dalam lari jarak jauh.
Menanggapi kejadian itu, Dr. Andik Wijaya, MD, MRepMed, dari Yada Institute mengingatkan pelari agar tidak hanya mengandalkan air putih saat maraton.
>>> Pemprov Bangka Belitung Pangkas Anggaran Perjalanan Dinas Rp56 Miliar
Minum air putih berlebihan tanpa mengganti elektrolit yang hilang lewat keringat dapat menyebabkan exercise-associated hyponatremia atau hiponatremia terkait olahraga.
"Pelari dalam kondisi haus sering kali hanya minum air biasa. Padahal, natrium yang keluar lewat keringat perlu diganti," kata dr. Andik dalam keterangan Rabu (17/6/2026).
Agus Putranadi dilaporkan ambruk di kilometer 14 sebelum meninggal dunia. Hiponatremia terjadi saat kadar natrium dalam tubuh turun drastis akibat ketidakseimbangan cairan.
"Ini adalah kondisi kekurangan natrium akibat natriumnya keluar lewat keringat, tetapi kemudian diganti hanya dengan cairan biasa," ujar dr. Andik.
Natrium berperan penting menjaga stabilitas kelistrikan dan keseimbangan cairan tubuh. Penurunan natrium drastis bisa mengganggu fungsi organ vital.
"Kekurangan natrium berpotensi mengganggu kelistrikan dalam tubuh, termasuk kelistrikan jantung, dan ini sangat berbahaya," kata dia.
Pemahaman masyarakat tentang minuman yang tepat saat olahraga berat perlu ditingkatkan. Minuman mengandung ion lebih penting daripada air mineral biasa.
>>> Dilema Politik Harga Murah di Tengah Pelemahan Rupiah
"Yang justru sangat diperlukan untuk menjaga kondisi pelari adalah minuman yang mengandung ion untuk menggantikan natrium yang hilang lewat keringat," ujarnya.
Penyelenggara lari disarankan mempermudah akses minuman berion di setiap pos hidrasi. Pengelolaan energi juga menjadi faktor keselamatan pelari.
Dr. Andik yang merupakan penyintas penyakit jantung koroner sejak April 2024 berhasil menyelesaikan JAKIM 2026 berkat strategi nutrisi.
Ia mengonsumsi pisang sebagai sumber energi setiap lima kilometer.
"Saya biasanya setiap lima kilometer membutuhkan tambahan asupan pisang. Ketika lomba kemarin, saya mengambil pisang di fruit station dan mengonsumsinya secara bertahap," kata dia.
Strategi pemenuhan energi harus diuji sejak latihan agar tubuh beradaptasi. Usia bukan jaminan aman dari risiko medis di lapangan.
"Usia muda tidak berarti pasti aman. Usia lanjut juga tidak berarti pasti berbahaya.
>>> Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter
Yang penting adalah persiapan yang baik dan pemahaman terhadap kondisi tubuh sendiri," ujar Andik.