Kesenjangan antara tingkat inklusi keuangan yang mencapai 90 persen dan pemahaman literasi finansial masyarakat menjadi sorotan dalam diskusi The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta.
Para tokoh lintas sektor menilai kesenjangan ini menjadi hambatan utama agar transformasi digital dan pertumbuhan sektor keuangan memberikan dampak optimal bagi kesejahteraan masyarakat.
>>> Menteri HAM: Pengadangan Demo BEM UI Sesuai Aturan, Bukan Batasi Hak
Edukasi Keuangan Dinilai Lebih Penting dari Sekadar Akses
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menekankan bahwa perluasan jangkauan produk keuangan tidak cukup tanpa edukasi mendalam tentang pengelolaan uang.
"Inklusi keuangan saja tidak cukup.
Masyarakat perlu memahami cara mengelola keuangan secara bijak, bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan," ujar mantan Menkominfo periode 2014-2019 ini.
Ia menambahkan, tantangan ini semakin mendesak di tengah maraknya layanan fintech yang membuat masyarakat rentan mengambil keputusan finansial keliru akibat minim edukasi.
Pendekatan literasi keuangan juga harus disesuaikan dengan profil masyarakat, terutama pelaku usaha ultra mikro di pedesaan yang membutuhkan pendampingan langsung.
Saat ini, Amartha fokus memberdayakan perempuan pengusaha mikro di desa dengan lebih dari 9.000 tenaga lapangan, di mana sekitar 70 persen mitranya berada di luar Pulau Jawa.
Infrastruktur Telekomunikasi Jadi Pilar Pendukung
Dalam forum yang sama, aspek infrastruktur telekomunikasi dibahas sebagai pilar pendukung utama optimalisasi ekosistem keuangan digital nasional.
Director and Chief Information Technology Officer XLSmart, Yessie D Yosetya, menekankan bahwa layanan digital tidak maksimal tanpa konektivitas internet merata, terutama di wilayah 3T.
>>> PP PBSI Siapkan 26 Atlet Muda untuk Kejuaraan Asia Junior 2026 di Jepang
"Konektivitas perlu dilihat bukan hanya sebagai akses internet, tetapi bagaimana akses tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas masyarakat," ungkapnya.
Tiga Pilar Utama untuk UMKM
Kebutuhan dasar pelaku usaha mikro juga menjadi sorotan untuk membangun ekosistem sehat dan menghindarkan mereka dari jebakan pembiayaan merugikan.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI 2020-2024, Sandiaga Uno, memaparkan bahwa pelaku UMKM memerlukan tiga pilar utama: akses pendidikan, jangkauan pasar, dan dukungan pembiayaan.
"Tahap awal, akses pasar sering kali lebih mendesak dibanding pembiayaan, karena pelaku usaha kecil perlu memastikan produknya terserap pasar.
Edukasi keuangan sangat penting agar mereka tidak terjebak skema pembiayaan tidak sehat," pungkasnya.
Diskusi panel bertajuk "Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems" ini dipandu moderator Eddi Danusaputro dari BNI Ventures dan Chairman AMVESINDO.
Acara juga menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, serta President Director Superbank Tigor M.
>>> Presiden Prabowo Panggil Mentan Amran Bahas Harga Sawit dan Pangan
Siahaan.
