Ketika Bank Indonesia menaikkan BI Rate hingga 100 basis poin dalam satu bulan, perhatian publik langsung tertuju pada rupiah.
Nilai tukar memang menjadi pusat percakapan.
>>> Cara Cek Pemadaman Listrik dan Lapor Gangguan via PLN Mobile
Namun, di balik layar, ada pertanyaan yang jauh lebih penting. Ketika seluruh energi kebijakan diarahkan untuk menyelamatkan rupiah, siapa yang menyelamatkan sektor riil?
Siapa yang menjaga UMKM, industri manufaktur, petani, nelayan, dan pelaku usaha yang setiap hari menggerakkan roda ekonomi Indonesia?
Rupiah Bukan Satu-satunya Wajah Ekonomi
Dalam ilmu ekonomi, menaikkan suku bunga adalah resep lazim ketika mata uang tertekan dan inflasi mengancam. Bank Indonesia menjalankan mandatnya menjaga stabilitas nilai rupiah.
Tidak ada yang keliru. Bahkan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, langkah tersebut dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter.
Namun, persoalan ekonomi tidak pernah sesederhana menjaga satu indikator. Ekonomi bukan hanya tentang kurs, inflasi, dan cadangan devisa.
Ekonomi juga tentang pabrik yang tetap beroperasi, toko yang tetap ramai, petani yang tetap menanam, UMKM yang tetap memperoleh pembiayaan, dan keluarga yang tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Ketika satu sisi ekonomi diselamatkan, jangan sampai sisi lainnya dibiarkan menanggung seluruh biaya penyesuaian.
Sering kali, ketika rupiah melemah, perhatian pemerintah dan pasar hanya tertuju pada layar perdagangan valuta asing. Padahal, mayoritas masyarakat Indonesia tidak pernah bertransaksi dolar.
Mereka hidup dengan rupiah yang dibelanjakan setiap hari di pasar, warung, bengkel, toko kelontong, dan sentra UMKM.
Bagi mereka, persoalannya bukan apakah kurs bergerak dari Rp 17.500 menjadi Rp 17.200 per dolar AS.
Persoalannya jauh lebih sederhana: apakah cicilan usaha bertambah mahal, apakah pelanggan semakin sepi, apakah harga bahan baku naik, dan apakah pesanan mulai berkurang.
Di titik inilah sektor riil mulai merasakan dampak kebijakan moneter. Kenaikan suku bunga memang dapat memperlambat inflasi, tetapi pada saat yang sama juga memperlambat denyut ekonomi.