⌂ Beranda News Dilema Kenaikan Suku Bunga dan Sektor Riil

Dilema Kenaikan Suku Bunga dan Sektor Riil

Dilema Kenaikan Suku Bunga dan Sektor Riil
Gedung Bank Indonesia di Jakarta
A A Ukuran Teks16px

Namun, masyarakat tidak membutuhkan koordinasi yang hanya terdengar dalam konferensi pers.

Yang dibutuhkan adalah hasil yang terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sudah saatnya koordinasi naik kelas menjadi kolaborasi.

Kolaborasi berarti setiap keputusan moneter langsung diikuti kebijakan fiskal, industri, perdagangan, ketenagakerjaan, hingga investasi yang saling memperkuat.

Tidak berjalan sendiri-sendiri, tidak saling menunggu, dan tidak saling melempar tanggung jawab.

Indonesia memerlukan sebuah economic war room, tempat seluruh otoritas ekonomi duduk dalam satu meja, membaca data yang sama, menetapkan sasaran yang sama, dan bergerak dengan kecepatan yang sama.

Krisis tidak pernah menunggu rapat koordinasi berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak boleh diukur hanya dari menguat atau melemahnya rupiah.

Mata uang yang stabil memang penting, tetapi stabilitas itu harus menjadi jembatan menuju pertumbuhan yang berkualitas, bukan tujuan yang berdiri sendiri.

Yang perlu dijaga bukan hanya kurs, melainkan juga denyut produksi, keberlangsungan usaha, keberanian investor, daya beli masyarakat, dan harapan jutaan pelaku UMKM yang setiap pagi membuka tokonya tanpa pernah mengetahui bagaimana pergerakan pasar valuta asing.

Rupiah memang simbol kedaulatan negara. Namun, sektor riil adalah napas kehidupan bangsa.

Jika negara terlalu sibuk menyelamatkan simbol, tetapi lupa menjaga napasnya, maka yang kita pertahankan hanyalah angka-angka di layar, sementara kehidupan ekonomi rakyat perlahan kehilangan tenaga.

>>> Kanada Hancurkan Qatar 6-0, David Cetak Hat-trick di Piala Dunia 2026

Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak hidup dari kuatnya rupiah semata, melainkan dari kuatnya orang-orang yang bekerja dengan rupiah itu setiap hari.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru