⌂ Beranda News Pengemudi Taksi Online Khawatirkan Dampak Pemadaman Listrik

Pengemudi Taksi Online Khawatirkan Dampak Pemadaman Listrik

Pengemudi Taksi Online Khawatirkan Dampak Pemadaman Listrik
Pengemudi taksi online mengisi daya mobil listrik di SPKLU
A A Ukuran Teks16px

>>> Prabowo Bahas Piala Dunia 2030 Bersama Menpora dan John Herdman

Beban Skema Sewa-Milik Kendaraan

Zyovanni mengungkapkan bahwa mayoritas pengemudi taksi online tidak membeli armada mobil listrik mereka secara tunai. Mereka memanfaatkan program sewa-milik atau sistem cicilan harian dari perusahaan penyedia jasa armada.

"Sekarang banyak yang pakai BYD M6, Atto 1, Aletra L8, itu ikut sistem setoran harian. Kurang lebih sekitar Rp 450.000 per hari.

Setelah lima tahun, kalau tidak salah, baru jadi hak milik pengemudi," ujarnya.

Kewajiban setoran harian yang tinggi memaksa mobil harus terus beroperasi di jalanan setiap hari tanpa henti.

"Makanya kalau sampai mobil enggak bisa dipakai karena enggak dapat giliran ngecas atau ada pemadaman yang lama, dampaknya besar," kata Zyovanni.

Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Rima, pemilik BYD M6 yang sesekali mencari penumpang lewat aplikasi transportasi daring.

Keandalan jaringan listrik PLN kini menjadi urat nadi bagi kelangsungan kerja para pengemudi.

"Kalau mobil listrik dipakai buat cari penumpang, pengisian daya itu sudah jadi kebutuhan harian. Jadi kalau ada gangguan listrik yang lama, pasti berpengaruh ke operasional," ujar Rima.

Potensi Antrean Panjang di SPKLU

Rima menjelaskan, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) biasanya menjadi penyelamat saat listrik di rumah padam. Namun, skenario tersebut tidak berlaku jika pemadaman terjadi secara masif.

"Kalau hanya rumah yang mati lampu masih bisa cari SPKLU. Tapi kalau gangguannya meluas, pengguna akan berbondong-bondong ke lokasi pengisian daya yang masih beroperasi.

Itu yang dikhawatirkan," kata Rima.

Populasi mobil listrik untuk angkutan online yang terus tumbuh membuat pasokan daya yang stabil menjadi kebutuhan mendesak bagi para sopir.

Di sisi lain, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memproyeksikan kebutuhan batu bara PLN pada tahun 2026 menyentuh angka 154 juta ton.

Pemerintah telah mengamankan sebagian besar pasokan tersebut lewat ikatan kontrak resmi.

"Dari 190 juta ton yang sudah dilakukan konfirmasi kurang lebih sekitar 150-160 juta ton. Dan sudah dilakukan kontrak sebesar 134 juta ton.

>>> Uzbekistan Tantang Kolombia di Laga Perdana Grup K Piala Dunia 2026

Artinya dari total kebutuhan PLN 154 juta yang sudah dikontrak 134 berarti kan tinggal kurang 20 (juta ton) yang belum dikontrakkan," ujar Bahlil dalam Raker, Senin (15/6/2026).

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru