Perundingan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss ditunda. Penyebabnya adalah eskalasi pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon selatan.
Dua sumber menyebutkan Iran memilih tidak mengirim delegasinya setelah kekerasan kembali pecah. Wakil Presiden AS JD Vance yang seharusnya mewakili Washington juga batal melakukan perjalanan ke Swiss.
>>> Brasil Tekuk Haiti 3-0, Rebut Puncak Klasemen Grup C Piala Dunia 2026
Hingga saat ini belum ada kepastian mengenai jadwal baru untuk pembahasan lanjutan. Penundaan ini menjadi hambatan bagi Presiden AS Donald Trump yang baru menandatangani nota kesepahaman dengan Iran.
Syarat Iran dan Respons Trump
Iran menjadikan penghentian pertempuran di Lebanon sebagai bagian dari syarat kesepakatan damai sementara dengan AS. Ketika pertempuran kembali terjadi, Teheran langsung menangguhkan keterlibatan dalam negosiasi.
Trump menulis di Truth Social bahwa Iran yang putus asa, namun tetap optimistis kesepakatan final masih mungkin tercapai.
Ia mengancam akan melakukan hal-hal yang tidak disukai Iran jika tidak ada kesepakatan.
Seorang pejabat AS mengabarkan Israel dan Hezbollah sebenarnya telah menyepakati gencatan senjata. Namun situasi di lapangan masih rawan dengan korban jiwa di kedua sisi.
Ketegangan Trump-Netanyahu dan Dampak Energi
Kondisi di Lebanon memicu gesekan diplomatik antara Washington dan Tel Aviv. Trump menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena serangannya dinilai hampir menggagalkan nota kesepahaman dengan Iran.
>>> Israel Pertahankan Pasukan di Lebanon Selatan Selama Gencatan Senjata
Netanyahu bereaksi keras dan menegaskan Israel akan menuntut harga mahal dari Hezbollah. Sementara itu, survei Channel 12 Israel menunjukkan 67 persen warga menilai kesepakatan AS-Iran merugikan negara mereka.
Ketidakpastian diplomasi membuat perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz.
Harga minyak Brent naik 0,9 persen menjadi 80 dolar AS per barel, meski secara mingguan turun 7,7 persen.
Kesepakatan sementara mencakup pencabutan blokade laut di pelabuhan Iran dan pembukaan Selat Hormuz. Kedua pihak juga sepakat memperpanjang gencatan senjata selama perundingan baru berjalan.
Agenda mendatang fokus pada pembatasan pengolahan uranium Iran.
>>> Ganti Oli Mesin Mobil Tiap 10.000 Km Berisiko Rusak Akibat Macet
Para pakar menilai target waktu 60 hari untuk kesepakatan permanen terlalu pendek, mengingat perjanjian nuklir 2015 membutuhkan dua tahun.