Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan Moratua Silaban atas Pasal 34 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Pasal tersebut mengatur kewajiban suami memberikan nafkah kepada istri.
Pemohon menilai aturan itu membebankan tanggung jawab sepihak pada laki-laki dan berpotensi menjadi eksploitasi materiil. Namun, MK menegaskan pembagian peran tersebut tetap menempatkan hak keduanya secara seimbang.
>>> Harga Emas Antam 20 Juni 2026 Stagnan di Level Rp 2.673.000 per Gram
Tekanan Psikologis Suami sebagai Pencari Nafkah
Psikolog klinis Danti Wulan Manunggal, S. Psi.
, Psikolog, mengatakan isu finansial dalam rumah tangga jarang murni tentang angka. "Secara psikologis, isu finansial dalam rumah tangga jarang murni tentang angka atau nominal uang," ungkapnya.
Masalah keuangan sering menjadi cerminan persoalan lain yang tidak terselesaikan. "Sering menjadi manifestasi dari masalah kekuasaan (power), penghargaan (appreciation), dan rasa aman (security)," lanjut Danti.
Tanggung jawab menafkahi keluarga mengikat secara hukum dan norma. Namun, jika tidak diimbangi timbal balik emosional, hal itu dapat memicu tekanan batin berat pada suami.
Absennya apresiasi membuat suami merasa fungsinya direduksi. "Absennya apresiasi membuat suami merasa fungsinya direduksi hanya menjadi mesin ATM," ujar Danti.
Menjadi satu-satunya pencari nafkah di tengah ketidakpastian ekonomi memicu kecemasan tinggi. "Tekanan untuk menjadi penyedia tunggal menciptakan kecemasan tinggi," ucap Danti.
Kondisi ini dapat diperparah oleh inflasi gaya hidup. Ekspektasi pengeluaran yang meningkat di luar kesepakatan awal membuat suami dituntut memacu pendapatan tanpa henti.
>>> Perundingan Damai AS-Iran di Swiss Tertunda Akibat Konflik Lebanon
Jika istri bersikap tidak acuh terhadap stres finansial, suami merasa berjuang sendirian.
"Jika istri bersikap tidak acuh terhadap stres finansial ini, suami merasa berjuang sendirian di dalam pernikahannya sendiri," sambung Danti.
Tekanan psikologis akibat merasa dimanfaatkan tidak hanya terjadi pada kelas ekonomi bawah. Pria dari keluarga mapan pun bisa mengalaminya.
"Meskipun suami berasal dari keluarga mapan dan bukan generasi sandwich, ia tetap bisa merasa dimanfaatkan," jelas Danti. Rasa tereksploitasi berakar dari pelanggaran batasan dan hilangnya rasa dihargai.
"Rasa tereksploitasi dalam psikologi relasi tidak selalu berakar pada berkurangnya nominal uang, melainkan pada pelanggaran batasan atau boundary violation, dan hilangnya rasa dihargai," lanjut Danti.
Tuntutan materi yang melampaui batas kewajaran tanpa empati membuat suami merasa terobjektifikasi.
>>> Brasil Tekuk Haiti 3-0, Rebut Puncak Klasemen Grup C Piala Dunia 2026
"Jika tuntutan melampaui kesepakatan awal tanpa empati, suami kaya raya sekalipun akan merasa terobjektifikasi, sekadar alat fungsional dan bukan pasangan hidup yang dicintai utuh," pungkas Danti.