Tren global juga menunjukkan pola serupa, di mana tingkat kebocoran data pada organisasi di Asia Pasifik meningkat tajam hingga 18% secara tahunan.
Ancaman siber di era AI semakin sulit dikendalikan karena kemampuannya bergerak secara lateral, menyusup antar-sistem tanpa terdeteksi oleh perangkat pengamanan konvensional.
Banyak perusahaan merespons kerumitan infrastruktur hibrida dengan memborong lebih banyak perangkat keamanan baru.
Namun, riset Gigamon mengungkap bahwa tim keamanan rata-rata mengelola hingga 15 tools berbeda, namun 55% mengaku perangkat tersebut tetap tidak memberikan visibilitas yang cukup.
Masalah mendasar lainnya terletak pada kualitas data, di mana 46% pemimpin keamanan dan IT mengaku kekurangan data yang bersih untuk mendukung sistem keamanan AI.
Kualitas data yang buruk berisiko menghasilkan kesimpulan yang keliru dari sistem analitik AI.
Sebagai solusi, observabilitas mendalam yang memanfaatkan telemetri jaringan dapat mengubah pergerakan jaringan menjadi bukti terpercaya untuk memantau aliran data dan memastikan kontrol keamanan berfungsi real-time.
>>> Timnas Amerika Serikat Tersingkir dari Piala Dunia 2026 Usai Dibungkam Belgia
Keberhasilan organisasi dalam memperluas skala penerapan AI akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membuktikan bahwa kontrol keamanan tetap berjalan efektif seiring berkembangnya sistem.
