⌂ Beranda News ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045

ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045

ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045
Ilustrasi: ARIKSA Desak Indonesia Segera Miliki Kebijakan Antariksa 2045
A A Ukuran Teks16px

"Kita harus mendukung tumbuhnya pemain-pemain baru di bidang antariksa Indonesia. Seperti negara lain, pemerintah, akademisi, industri, hingga masyarakat harus bersama-sama membangun ekosistem antariksa yang berdaulat," ujarnya.

Indonesia, menurut Adi, memiliki keunggulan geografis yang tidak dimiliki banyak negara.

>>> 8 Tim Berebut Tiket Semifinal Piala Dunia 2026

Salah satunya adalah posisi Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa, sehingga dinilai sangat strategis untuk peluncuran satelit maupun pengembangan konstelasi satelit orbit rendah.

Bersama negara-negara ekuator lain, Indonesia juga berpeluang membangun konstelasi satelit ekuatorial untuk kebutuhan pengamatan Bumi (Earth Observation).

"Kalau kita bisa bekerja sama dengan Brasil mewakili Amerika Selatan dan Nigeria mewakili Afrika, gabungan negara-negara ekuator itu memiliki produk domestik bruto sekitar USD 4,8 triliun.

Ini bisa menjadi kekuatan besar dalam membangun konstelasi satelit ekuatorial," kata Adi.

Selain regulasi, Adi menilai Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia di sektor antariksa.

Ia memperkirakan jumlah tenaga profesional yang benar-benar berkecimpung di bidang antariksa di Indonesia masih kurang dari 1.000 orang, jauh di bawah India yang memiliki sekitar 20.000 tenaga ahli.

Karena itu, ia mendorong adanya integrasi antara dunia pendidikan, industri, dan lembaga riset agar lulusan bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) memiliki jalur karier yang jelas.

"Tugas kita adalah membangun jalan agar anak-anak muda Indonesia dapat berkarya dan berkembang. Mereka harus memiliki wadah yang jelas untuk berkarier di bidang antariksa," ujarnya.

Adi sempat mengenang peluncuran Satelit Palapa A1 pada 1976 sebagai tonggak penting sejarah telekomunikasi Indonesia.

Menurutnya, saat itu Palapa bukan sekadar proyek teknologi, tetapi simbol kedaulatan yang mampu menyatukan Indonesia di tengah keterbatasan infrastruktur komunikasi antarpulau.

Namun, ia menegaskan bahwa peringatan 50 tahun Satelit Indonesia seharusnya tidak berhenti pada nostalgia.

Mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, Adi menyebut, "Semakin jauh kita melihat ke belakang, semakin jauh pula kita dapat melihat ke depan."

>>> Taklukkan Mesir, Bukti Argentina Tak Cuma Lionel Messi

Menurutnya, semangat itulah yang perlu menjadi pijakan Indonesia untuk membangun industri antariksa yang mandiri dan berdaya saing.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM