Sekitar 45 juta tahun lalu, sebagian besar wilayah Antartika Timur telah mencapai ketinggian sekitar 1,5 hingga 2 kilometer.
Ketinggian tersebut menjadi batas yang memungkinkan salju bertahan sepanjang tahun dan berkembang menjadi lapisan es permanen.
Dr. Thea Hincks, Senior Research Fellow di University of Southampton, menyatakan bahwa model yang dikembangkan tim mampu merekonstruksi pembentukan bentang alam Antartika dengan cukup akurat.
Model tersebut berhasil menggambarkan evolusi tebing pesisir setinggi dua kilometer, dataran tinggi, dan pegunungan di pedalaman yang pada akhirnya menjadi tempat awal terbentuknya Lapisan Es Antartika Timur.
Dr. Guy Paxman, penulis studi dari Durham University, menjelaskan bahwa topografi memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan gletser.
Suhu udara dapat turun hingga sekitar 10 derajat Celsius setiap kenaikan ketinggian 100 meter, menunjukkan pentingnya topografi bagi pembentukan lapisan es.
Hasil studi ini menunjukkan bahwa sejarah iklim Bumi tidak hanya ditentukan oleh atmosfer, tetapi juga oleh proses yang berlangsung jauh di bawah permukaan planet.
Pergerakan lempeng tektonik, pembentukan pegunungan, dan dinamika mantel Bumi dapat menentukan kapan sebuah wilayah mencapai kondisi yang cukup dingin untuk mempertahankan lapisan es dalam jangka panjang.
Temuan ini juga membantu menjelaskan mengapa Kutub Utara membeku jauh lebih lambat dibanding Antartika.
>>> Jaya Raya Junior Grand Prix 2026: Tuan Rumah Dominasi Hari Kedua
Tidak seperti Antartika yang merupakan benua dengan dataran tinggi, Kutub Utara sebagian besar berupa samudra sehingga tidak memiliki bentang alam tinggi yang dapat menjadi tempat terbentuknya lapisan es permanen sejak awal.
