Namun, yang masih menjadi misteri adalah mengapa bakteri tersebut dapat berkumpul dalam jumlah luar biasa besar hingga membuat permukaan laut tampak menyala dari luar angkasa.
Menurut Justin Hudson, mahasiswa doktoral di Colorado State University sekaligus salah satu penulis studi terbaru, memahami fenomena ini dapat membuka banyak pengetahuan baru tentang lautan.
"Milky seas bisa menjadi tanda ekosistem yang sangat sehat. Bisa juga justru menunjukkan ekosistem yang tidak sehat.
Sampai sekarang kami belum mengetahuinya," ujar Hudson.
Ia menambahkan bahwa kemampuan memprediksi kapan dan di mana fenomena tersebut muncul akan membantu ilmuwan memahami perannya dalam sistem Bumi secara keseluruhan.
Berdasarkan analisis terhadap seluruh laporan sejarah, para peneliti menemukan sebagian besar milky seas terjadi di kawasan Laut Arab dan Asia Tenggara.
Mereka menduga fenomena ini berkaitan dengan sistem iklim besar seperti Indian Ocean Dipole dan El Niño Southern Oscillation (ENSO), meski hubungan tersebut masih perlu dipastikan melalui penelitian lanjutan.
Bagi Steven Miller, mempelajari laut bercahaya bukan hanya penting untuk memahami ekosistem Bumi, tetapi juga dapat membantu pencarian kehidupan di luar planet kita.
"Di mana posisi fenomena ini dalam alam? Apa yang bisa diajarkan tentang kehidupan di lautan?
Bakteri merupakan bentuk kehidupan yang sangat sederhana, dan bioluminesensi diduga menjadi salah satu fungsi penting pada bentuk kehidupan paling awal.
Apa yang bisa diajarkan milky seas dalam pencarian bentuk kehidupan serupa di alam semesta? ," kata Miller dalam pernyataan NASA.
Meski teknologi satelit telah membuat fenomena ini lebih mudah dipantau, para ilmuwan mengakui bahwa milky seas masih menjadi salah satu misteri terbesar di lautan.
>>> Pemerintah Inggris Desak FIFA Investigasi Spanduk Malvinas Argentina
Setelah ratusan tahun dilaporkan para pelaut, asal-usul dan fungsi sebenarnya dari laut yang bercahaya ini masih belum sepenuhnya terpecahkan.
