>>> Jaket Bekas CEO Nvidia Jensen Huang Terjual Rp 17,2 Miliar di Lelang
Giuffra dan timnya menemukan jejak genetik Plasmodium, parasit penyebab malaria, pada sampel tulang rusuk Francesco. "DNA adalah sesuatu yang pasti.
Ini menyelesaikan masalah dan keraguan. Saya rasa ini jawaban definitif," ujar Giuffra.
Malaria, yang namanya berasal dari frasa Italia 'mal aria' (udara buruk), merupakan penyakit mematikan yang menyebabkan ratusan ribu kematian setiap tahunnya.
Penyakit ini diyakini berasal dari udara busuk di sekitar rawa-rawa.
Catatan medis dari dokter Medici mendeskripsikan gejala yang konsisten dengan malaria, termasuk ruam kulit, demam, dan pembengkakan. Perawatan yang diberikan, seperti 'bloodletting', justru dapat memperburuk kondisi pasien.
Namun, Donatella Lippi, profesor sejarah kedokteran yang sebelumnya mendukung hipotesis peracunan, masih berpendapat bahwa Francesco menderita malaria namun meninggal akibat racun.
Ia merujuk pada catatan Perpustakaan Vatikan yang menyebutkan gejala keracunan arsenik akut.
Lippi juga menyoroti kondisi tangan Francesco yang mengerut dan tubuhnya yang terawetkan dengan baik setelah makamnya dibuka 300 tahun kemudian, yang menurutnya bisa dijelaskan oleh efek arsenik.
Menanggapi hal ini, Giuffra menjelaskan bahwa temuan Lippi tidak didasarkan pada kerangka Francesco, melainkan pada jaringan biologis di lokasi lain.
>>> Semangat Juang Atlet Palestina: Kehilangan Kaki Tak Padamkan Mimpi
Ia juga menyebutkan bahwa Francesco dikenal sebagai alkemis yang sering bereksperimen dengan zat kimia, yang bisa menjelaskan ruam kulit.
