Letusan Krakatau pada tahun 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling dahsyat dalam sejarah peradaban manusia.
Dampak bencana tersebut tidak hanya dirasakan di sekitar Selat Sunda, melainkan juga mencapai belahan dunia yang sangat jauh.
Fenomena Atmosfer Global Akibat Letusan Krakatau
Berbulan-bulan setelah letusan puncak terjadi, masyarakat di Eropa dan Amerika menyaksikan perubahan warna langit yang tidak biasa.
Matahari terbenam tampak menyala merah terang, kadang disertai kilau hijau dan ungu, sementara Bulan terlihat kebiruan.
Material vulkanik dan aerosol sulfat yang terlontar tinggi ke atmosfer menjadi penyebab utama fenomena optik tersebut.
Partikel debu dan gas yang melayang mengikuti sirkulasi global ini memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar.
Selain mengubah warna langit, keberadaan aerosol di atmosfer juga memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa.
Suhu rata-rata global dilaporkan mengalami penurunan sekitar 0,5 hingga 0,6 derajat Celsius sebelum perlahan kembali normal.
