Bagi masyarakat yang tinggal di lembah Alpen, kebijakan tersebut memberikan manfaat nyata berupa udara yang lebih bersih, tingkat kebisingan yang lebih rendah, serta berkurangnya risiko kecelakaan akibat kendaraan berat di jalan-jalan pegunungan yang sempit.
Manfaat jaringan terowongan itu tidak berhenti pada pengurangan emisi.
Seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, seperti longsor, banjir, dan longsoran salju, jalur transportasi di permukaan menjadi lebih rentan terganggu.
Sebaliknya, terowongan yang berada jauh di bawah tanah tetap dapat beroperasi ketika kondisi di atas permukaan memburuk.
Kemampuan tersebut membuat sistem transportasi Swiss menjadi lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.
Distribusi barang maupun perjalanan penumpang tetap dapat berlangsung meski cuaca ekstrem melanda kawasan pegunungan.
Pemerintah Swiss juga berupaya meminimalkan dampak pembangunan terowongan terhadap alam.
Material galian sebanyak mungkin diangkut menggunakan kereta, limbah konstruksi dan air bekas pengeboran diolah sebelum dialirkan ke sungai, serta habitat satwa dipulihkan setelah proyek selesai.
Bantaran sungai direstorasi dan dinding batu tradisional dibangun kembali sebagai tempat hidup reptil serta hewan-hewan kecil.
Meski kebijakan pengalihan angkutan barang ke kereta masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan kapasitas jalur rel di negara tetangga, Swiss tetap mempertahankan strategi tersebut.
>>> Piala AFF 2026: Magno Pulih, Vietnam Siap Tampilkan Trio Brasil di Lini Depan
Negara itu kini dianggap sebagai salah satu contoh terbaik bagaimana investasi infrastruktur jangka panjang dapat mengurangi emisi sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
