Upaya terus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan bangunan dan merekonstruksi struktur lama sesuai standar terbaru. Sebagai salah satu negara terkaya, Jepang memiliki kapasitas finansial dan teknologi untuk mengantisipasi bencana.
Namun, kecanggihan teknologi tetap memiliki keterbatasan. Bencana Tohoku tahun 2011, yang dipicu gempa magnitudo 9,1 dan tsunami, menewaskan hampir 20.000 orang.
Gempa dengan skala lebih kecil pun masih sering memakan korban jiwa, seperti gempa magnitudo 7,1 di Noto pada tahun 2024 yang menewaskan lebih dari 700 orang.
Profesor Shoichi Yoshioka dari Universitas Kobe menyatakan bahwa sekitar 10% gempa dunia dengan magnitudo 6 ke atas terjadi di atau sekitar Jepang, menunjukkan risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
>>> Jadwal Padat Piala AFF, John Herdman Pertimbangkan Rotasi Skuad Garuda
Ketakutan mendalam yang dirasakan masyarakat Jepang akibat menyaksikan hilangnya nyawa dan kehancuran bangunan menjadi faktor signifikan yang mendorong kesiapsiagaan negara tersebut.
