Adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor publik semakin masif, mulai dari instansi pemerintahan hingga institusi pendidikan.
Teknologi ini digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional krusial, seperti penentuan kelayakan penerima bantuan hingga mendeteksi penipuan.
>>> Fermin Lopez Terpukul Dicoret dari Piala Dunia 2026, tapi Akhirnya Ikut Rayakan Gelar
Namun, laju adopsi ini menyimpan risiko serius.
Laporan terbaru dari Nutanix melalui survei Enterprise Cloud Index (ECI) edisi sektor publik mengungkapkan bahwa mayoritas organisasi masih tersandung masalah kesiapan infrastruktur dan tata kelola.
Infrastruktur Tertinggal dan Ancaman Shadow AI
Tuntutan meningkatkan kualitas layanan publik sekaligus melindungi data sensitif membuat pemimpin IT di sektor publik berada dalam posisi sulit.
Sekat-sekat informasi di dalam organisasi membuat adopsi AI kerap tidak terpantau, memicu risiko shadow AI—penggunaan sistem AI tanpa persetujuan atau pengawasan resmi dari departemen IT.
Laporan ECI dari Nutanix membeberkan temuan statistik yang mengkhawatirkan.
Sebanyak 91 persen pemimpin IT di instansi pemerintahan dan pendidikan sepakat bahwa penggunaan AI yang tidak terverifikasi menimbulkan risiko serius terhadap misi dan keamanan organisasi.
Tercatat 73 persen infrastruktur IT sektor publik saat ini dinilai belum siap untuk menjalankan beban kerja AI yang kompleks, terutama pada lingkungan sistem lokal (on-premises).
>>> Presiden FIFA Buka Suara soal Wacana Jual Saham Piala Dunia
Fondasi infrastruktur yang belum merata menjadi akar masalahnya.
Banyak instansi harus membagi fokus antara mengelola sistem legacy yang usang, memelihara private cloud, dan memigrasikan data ke infrastruktur cloud modern secara bersamaan tanpa sistem kontrol terpadu.
Chief Technology Officer and VP of Solution Engineering APJ Nutanix, Daryush Ashjari, mengatakan bahwa semakin meluasnya penggunaan AI yang belum terverifikasi telah menjadi tantangan utama dalam aspek tata kelola di sektor publik.
Di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang, pembahasan kini bergeser dari sekadar ambisi mengadopsi AI menuju kesiapan operasional.
Daryush menegaskan bahwa organisasi yang sukses adalah mereka yang berhenti mengejar tren fitur AI baru dan berfokus memperkuat fondasi infrastruktur terlebih dahulu.
Dengan memprioritaskan arsitektur yang aman dan berbasis kontainer, instansi dapat memanfaatkan AI dengan lebih percaya diri sekaligus menjaga kedaulatan data masyarakat.
Riset global Nutanix ECI ini melibatkan 1.600 eksekutif di bidang cloud, IT, dan engineering dari 14 negara yang disurvei pada November 2025.
>>> Hari di Zaman Dinosaurus Lebih Singkat, Tak Sampai 24 Jam
Laporan ini memberikan gambaran bahwa modernisasi infrastruktur hybrid kini menjadi syarat mutlak, bukan lagi sekadar wacana.
