⌂ Beranda News Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center

Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center

Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center
Ilustrasi: Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center
A A Ukuran Teks16px

Jakarta - Pembangunan data center, terutama untuk AI, semakin marak meski dinilai mencemari lingkungan dan boros listrik. Di Amerika Serikat, gelombang protes terhadap pembangunan ini semakin meningkat.

Sepanjang 2026, Futurism mencatat setidaknya 37 penangkapan terkait protes data center.

>>> Palworld Online Mobile Akan Hadir, Ini Jadwal Rilisnya

Ada pula 12 kasus tambahan di mana polisi turun tangan mencegah pendemo atau pembicara yang ingin melabrak pemimpin daerah yang mengizinkan pembangunan.

Jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena kasus-kasus ini sering tidak masuk pemberitaan.

Berbeda dengan pergolakan politik, aktivis anti data center sulit dikelompokkan ke demografi tertentu.

Latar belakang mereka beragam, mulai dari petani pemilik lahan, guru fisika, hingga warga dari Generasi Z sampai boomers.

Mereka yang ditangkap memiliki satu kesamaan: merasa bahwa pejabat terpilih gagal mencerminkan keinginan warga dan lebih tunduk pada raksasa teknologi.

Intimidasi di Ruang Publik

Salah satu contohnya adalah Pablo Payan (42 tahun), manajer pemeliharaan asal Indiana.

Dalam rapat umum bulan Mei untuk membahas rencana pembangunan data center Amazon di Hobart, Payan menolak menyebut identitasnya sebelum berbicara.

Polisi kemudian mengeluarkannya dari ruangan. Saat ditanya mengapa ia diusir, Payan justru ditangkap dengan tuduhan masuk tanpa izin dan mengganggu ketertiban umum.

>>> Vicario dan Suzuki Diincar Juventus, Buffon Beri Komentar

"Menurut saya, saya diusir untuk membuktikan bahwa hukum ada di pihak mereka, dan jika masyarakat terus mencoba mengekspresikan diri serta berbicara, mereka juga akan diintimidasi atau ditangkap oleh penegak hukum.

Jadi, menurut saya itu adalah ajang pamer kekuasaan," ujarnya.

Demonstrasi hampir seluruhnya damai dan baru memanas menjadi konfrontasi fisik ketika polisi mulai agresif.

Banyak tuduhan pelanggaran muncul hanya karena aktivis melanggar aturan sepele, seperti berbicara melebihi batas waktu.

Lux Claridge, guru fisika dari Emporia, Kansas, ditangkap hanya karena bertepuk tangan mendukung warga yang menentang usulan pembangunan kawasan pusat data seluas 1.000 hektar.

Ia dianggap melanggar aturan larangan bertepuk tangan.

"Saya sangat yakin bahwa bertepuk tangan adalah hak Amandemen Pertama yang saya miliki.

>>> Hasil Piala AFF 2026: Thailand Atasi Filipina 1-0

Saya berhak melakukannya selama saya tidak mengganggu ketertiban, dan saya tetap berargumen bahwa saya sama sekali tidak mengganggu," sebutnya.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM