Hemat Ribuan Jam Kerja
Dalam tahap awal transformasi digitalnya, RS Mitra Keluarga menggunakan layanan Amazon Bedrock dari Amazon Web Services (AWS) untuk dua kebutuhan utama.
>>> Piala AFF 2026: Syarat Timnas Indonesia Lolos ke Semifinal
Pertama, mempercepat proses rekrutmen tenaga kesehatan melalui asisten AI bernama Nara yang membantu menyaring resume pelamar.
Solusi ini diklaim mampu menghemat lebih dari 2.300 jam kerja tim HR setiap tahun. Meski demikian, keputusan menerima atau menolak kandidat tetap dilakukan oleh tim HR.
Kedua, AI juga digunakan dalam pengembangan perangkat lunak internal rumah sakit menggunakan Kiro, asisten pemrograman berbasis AI dari AWS.
Menurut Yosep, aplikasi manajemen fasilitas yang semula diperkirakan selesai dalam tiga bulan kini dapat dikembangkan hanya dalam satu bulan.
Sementara proses perbaikan sistem rekam medis yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar satu minggu kini dapat diselesaikan dalam satu hingga dua hari.
Pada kesempatan yang sama, Country Manager AWS Indonesia Anthony Amni mengatakan efisiensi semacam itu pada akhirnya bertujuan mengembalikan waktu tenaga kesehatan untuk melayani pasien.
"Layanan kesehatan hadir untuk memberikan perawatan terbaik bagi pasien.
Setiap jam yang dihabiskan untuk menunggu sistem yang bermasalah adalah satu jam yang seharusnya bisa digunakan untuk merawat pasien," kata Anthony.
Selain tantangan teknologi, RS Mitra Keluarga juga harus mengubah pola pikir para tenaga medis. Yosep mengatakan sosialisasi saja tidak selalu cukup.
Karena itu, rumah sakit melibatkan dokter senior maupun dokter muda yang sudah memahami AI untuk menjadi agent of change di lingkungan kerja mereka.
"Kadang ada orang yang sangat sulit diberikan pengertian.
Justru kalau mereka sudah paham, mereka bisa menjadi agent of change untuk menjelaskan ke teman-temannya bahwa AI bukan untuk menggantikan tugas mereka, tapi membantu pekerjaan mereka," ujarnya.
>>> Postingan 'BPJS Cuma 1%' Bikin Murka, Warganet: Jangan Membenturkan Nakes dan Pasien
Meski pemanfaatan AI akan terus diperluas, Yosep memastikan teknologi tersebut tetap berperan sebagai alat bantu. Sedangkan, keputusan medis sepenuhnya tetap berada di tangan para dokter.
