⌂ Beranda News Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI

Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI

Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI
Ilustrasi: Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI
A A Ukuran Teks16px

Karena mengajar di program internasional, Fajar melengkapi aplikasi tersebut dengan kemampuan mengevaluasi jawaban siswa dalam bahasa Inggris.

>>> MU Pinjamkan Altay Bayindir ke Celta Vigo

"Tool tersebut sudah digunakan oleh peserta didik saya di kelas," katanya.

Menurut Fajar, pengalaman membangun aplikasi AI secara langsung jauh lebih berharga dibanding sekadar mempelajari teori.

Melalui program tersebut, ia juga berhasil meraih sertifikasi AWS Certified AI Practitioner.

"Informasi yang saya dapat terkait AWS PartyRock ini benar-benar sangat bermanfaat. Terlepas saya mendapatkan sertifikat atau tidak, saya memang sudah merencanakan menggunakan ini di kelas," ujarnya.

Ia menilai materi sertifikasi tidak hanya berfokus pada produk AWS.

"Sekitar 70% materinya berkaitan dengan pemahaman AI, sedangkan 30% tentang produk AWS. Jadi kalau memahami konsep AI, peluang untuk lulus juga besar," katanya.

Ingin Menularkan ke Guru Lain

Fajar berencana membagikan pengalamannya kepada rekan-rekan guru lainnya di Tapanuli Tengah.

"Saya ingin menyebarkan tools ini dulu di lingkungan sekolah, karena saya sudah merasakan manfaatnya.

Saya ingin guru-guru lain juga merasakan manfaatnya, dan siswa di kelas lain juga bisa menggunakannya," ujarnya.

Ia mengaku pencapaian yang paling membanggakan bukanlah sertifikat, melainkan keyakinan bahwa guru dari daerah juga mampu menguasai teknologi AI.

"Meraih sertifikasi AWS AI menunjukkan kepada saya bahwa seorang guru dari daerah pinggiran dapat mencapai standar yang sama dengan para profesional di bidang ini.

Sekarang saya merasa percaya diri untuk mengajarkan AI kepada siswa dan rekan-rekan pendidik saya, karena saya tidak hanya membicarakannya.

Saya sudah memanfaatkan dan berkembang bersamanya," kata Fajar.

Sementara itu, Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS Yashinta Bahana mengatakan melalui program IndonesiapandAI, AWS ingin peserta tidak hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga mampu membangun solusi yang dapat dimanfaatkan di dunia nyata.

"Kami ingin membangun para builders, bukan sekadar orang yang memakai AI. Karena itu peserta tidak hanya belajar, tetapi juga diminta membuat aplikasi menggunakan AI," ujar Yashinta.

>>> Singapura Vs Indonesia: Solidnya Lini Belakang Singa Ujian Garuda

Sejak 2017, AWS mencatat telah membantu lebih dari 1,3 juta masyarakat Indonesia mengembangkan keterampilan cloud dan AI melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM