Teknologi canggih kecerdasan buatan atau AI kini mulai disalahgunakan oleh para pelaku kejahatan siber.
Kelompok hacker hitam memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengembangkan berbagai jenis malware berbahaya.
>>> Vietnam ke Final Piala AFF 2026 Usai Kembali Tundukkan Malaysia
Temuan ini diungkapkan oleh peneliti keamanan dari Global Research and Analysis Team Kaspersky.
Penggunaan AI membuat pembuatan perangkat perusak menjadi jauh lebih mudah dan mempercepat proses serangan.
Siapa pun yang memiliki akses luas kini dapat dengan mudah merancang kode berbahaya.
Evolusi pemanfaatan teknologi ini terus berkembang pesat sejak beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2022, AI banyak dipakai sekadar untuk mencari informasi dasar mengenai cara kerja malware.
Peran tersebut bergeser menjadi asisten pengembangan kode pada tahun berikutnya.
>>> Duel Thailand vs Vietnam Tersaji di Partai Puncak Piala AFF 2026
Memasuki tahun 2024, teknologi ini membantu pelaku melancarkan serangan secara langsung.
Bahkan pada 2025, sistem AI tertanam langsung di dalam kode malware untuk menjalankan aksi jahat.
Perkembangan ini membawa situasi menuju era pembuatan malware berbasis agen secara otonom.
Kelompok ransomware seperti FunkSec terbukti memanfaatkan teknologi ini untuk membuat alat serangan DDoS.
Para peneliti menemukan sejumlah artefak khusus seperti perintah panjang dan penggunaan emoji di dalam kode.
>>> AirPods Berkamera dan Vision Pro Gen 2 Muncul di Pembaruan Apple
Selain itu, kode buatan AI sering kali memuat berbagai bug serta modul palsu.

