Startup teknologi Curaweda menyiapkan ekspansi besar di sektor pameran digital.
Perusahaan menargetkan pengelolaan tujuh hingga delapan museum dan pengalaman berbasis kecerdasan buatan hingga akhir tahun.
>>> Claude Fable 5.1 Meluncur, AI Coding Lebih Cepat dan Hemat
Saat ini, lima lokasi sudah beroperasi mencakup wilayah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Keraton Kasepuhan Cirebon, TMII, serta GIK Jakarta.
Dua proyek berikutnya sedang dipersiapkan di Bandung dan Jakarta.
Wahana Perang Gerilya Imersif
Salah satu proyek baru yang tengah dikembangkan memiliki format menyerupai labirin atau rumah hantu tanpa hantu.
Konsep tersebut menghadirkan pengalaman perang gerilya interaktif bagi pengunjung.
Pengunjung akan membawa replika senjata dan merasakan atmosfer lingkungan yang dirancang menyerupai situasi masa lalu.
Sistem interaktif dan mikrofon membaca tindakan peserta sehingga alur cerita dapat berujung pada akhir yang berbeda.
Meski dibuat interaktif, jalan cerita utama tetap berpegang pada fakta sejarah yang akurat.
>>> Premier League Cetak Rekor Transfer Rp 81,7 T di Bursa Musim Panas
Wahana tersebut dijadwalkan meluncur di Jakarta pada bulan November.
Tantangan Kurasi Sejarah
Pengembangan konten digital menggunakan teknologi tidak memakan waktu lama.
Tantangan terbesar justru terletak pada proses menjaga tingkat akurasi sejarah.
Proyek Purwacarita Borobudur melibatkan riset sumber primer serta kajian dari Museum dan Cagar Budaya.
Universitas Gadjah Mada turut dilibatkan untuk memvalidasi netralitas materi.
Proses pembuatan tersebut melalui sembilan kali revisi dalam waktu sekitar empat bulan dengan melibatkan empat belas pakar.
>>> Jose Mourinho Minta Publik Maklumi Adaptasi Sulit Yan Diomande
Curaweda memilih fokus pada sektor sejarah dan budaya karena potensi situs yang melimpah di Indonesia.