⌂ Beranda News Kisah Manusia Terowongan Cari Korban Hilang di Pembangkit Nepal
News

Kisah Manusia Terowongan Cari Korban Hilang di Pembangkit Nepal

Ilustrasi operasi penyelamatan di terowongan bawah tanah akibat banjir
Kisah Manusia Terowongan Cari Korban Hilang di Pembangkit Nepal
A A Ukuran Teks16px

Tiga belas hari setelah banjir dahsyat mengubur wilayah utara Nepal, seorang pakar penyelamatan asal Australia terus berjuang menggali di bawah tanah.

Arnold Dix yang dijuluki Tunnel Man memimpin upaya pencarian tanda kehidupan di balik tumpukan lumpur, bebatuan, dan puing.

"Ini benar-benar berbeda dari operasi penyelamatan mana pun yang pernah saya ketahui dalam sejarah dunia," ungkap Dix kepada kantor berita EFE.

Ia menyebutkan sebagian besar struktur terowongan masih utuh meskipun dipenuhi oleh material lumpur, batu, serta air.

Ratusan pekerja dilaporkan hilang di lebih dari selusin terowongan pembangkit listrik tenaga air di sepanjang aliran sungai Bhotekoshi.

Dix meyakini bahwa manusia mampu bertahan hidup di lingkungan bawah tanah jauh lebih lama dari perkiraan banyak pihak.

"Terowongan adalah lingkungan yang dirancang khusus dan terlindung dari cuaca dengan suhu relatif stabil," tulisnya.

Menembus Lorong Sempit Demi Korban Selamat

Banjir bandang yang terjadi pada 26 Agustus lalu telah menghancurkan akses jalan menuju sejumlah pembangkit listrik.

Kondisi tersebut membuat proses evakuasi menghadapi tantangan berlapis karena jalur darat terputus total.

Pada minggu pertama operasi, Dix memfokuskan perhatian untuk mengidentifikasi ruang-ruang bawah tanah yang berpotensi menopang kehidupan.

Penilaian tersebut terbukti ketika dua pekerja dari fasilitas Trishuli 3A berhasil diselamatkan setelah terjebak selama sembilan hari.

Kini, tim penyelamat berfokus di fasilitas lain dekat perbatasan China untuk mencari kemungkinan adanya korban selamat.

Strategi yang diterapkan tim penyelamat tergolong sederhana, yaitu merangsek maju melalui lorong sempit berdampingan dengan atap asli terowongan.

Dix percaya rintangan terbesar dalam misi ini bukanlah masalah teknik, melainkan sifat pesimisme yang ada.

📰 Update Terbaru