Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa baru saja mengeluarkan resolusi yang mendorong promosi peta dunia lebih akurat.
Resolusi yang dipelopori oleh negara-negara Afrika tersebut berhasil menarik 164 suara dukungan dalam sidang.
Namun, resolusi ini bersifat tidak mengikat dan tidak memaksa perubahan peta pada perusahaan teknologi.
Dorongan ini membuat publik mempertanyakan nasib aplikasi navigasi populer seperti Google Maps dan Apple Maps.
Selama ini, aplikasi navigasi digital masih mengandalkan proyeksi Mercator dari abad ke-16 untuk memandu pengguna.
Proyeksi Mercator dikenal sangat praktis untuk kebutuhan navigasi maritim dan pergerakan kapal.
Kendati demikian, peta tersebut menunjukkan distorsi ukuran daratan yang membuat benua terlihat jauh lebih besar dari aslinya.
Contoh paling nyata adalah penampakan benua Afrika yang tampak setara dengan Greenland pada peta konvensional.
Padahal, ukuran asli wilayah benua Afrika sebenarnya jauh lebih luas daripada perbandingan visual tersebut.
Sejumlah pemerintah dan institusi pendidikan kemungkinan mulai mempromosikan peta Equal Earth ciptaan 2018.
Walau demikian, aplikasi navigasi harian diprediksi bakal tetap mempertahankan proyeksi lama dalam waktu dekat.
