Performa naik-turun yang dialami Liverpool dalam ajang Liga Inggris tak lepas dari masalah lini serang yang masih melempem.
The Reds pun dituntut agar bisa tampil jauh lebih tajam di depan gawang lawan.
Skuad asuhan pelatih tersebut dijadwalkan melawat ke markas Crystal Palace di Selhurst Park pada akhir pekan.
Meskipun datang dengan status sebagai tim unggulan, Liverpool masih membawa catatan problem utama di lini depan.
Padahal, klub Merseyside itu diperkuat oleh sejumlah pemain penyerang berkualitas tinggi.
Nama-nama seperti Alexander Isak, Bradley Barcola, Florian Wirtz, Cody Gakpo, hingga Victor Munoz berada di dalam skuad.
Kendati demikian, lini depan mereka tetap kesulitan dalam menghasilkan gol secara konsisten.
Catatan menunjukkan baru ada 11 gol yang berhasil diciptakan dari total sembilan pertandingan yang telah berlalu.
Liverpool bahkan menjadi tim terburuk kedua dalam hal penciptaan maupun eksekusi peluang emas di lapangan.
Situasi tersebut hanya sedikit lebih baik daripada catatan yang dimiliki oleh tim promosi Coventry City.
Bahkan, mereka sudah tercatat gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan kandang liga pada musim ini.
Ironisnya, performa di kompetisi Eropa justru berbanding terbalik dengan catatan domestik mereka.
Di ajang Liga Champions, Liverpool sudah mampu membukukan 14 gol dari empat pertandingan.
Kondisi kontras ini disadari betul oleh sang pelatih yang menilai para pemainnya belum cukup klinis.
Sang juru taktik menuntut agar anak asuhnya mampu mengontrol permainan dengan lebih baik.
Ia mengakui musim ini berjalan aneh karena timnya bisa mencetak banyak gol sekaligus kebobolan banyak gol di Eropa.
Sebaliknya, torehan gol dan kebobolan di Premier League justru jauh lebih sedikit.
Tantangan utama tim saat ini adalah berupaya mencetak gol lebih banyak serta mengurangi jumlah kebobolan.
Evaluasi juga diberikan terkait cara tim menyerang kotak penalti lawan agar menjadi jauh lebih efektif.
