Kondisi tersebut membuktikan bahwa tekanan pada pasar pangan global belum sepenuhnya mereda.
Dampak Lonjakan Harga Energi
Meningkatnya harga energi menjadi faktor krusial yang berulang kali disorot oleh FAO sebagai pendorong utama krisis ini.
Kenaikan harga energi ini berkaitan erat dengan eskalasi konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Efek dari harga energi tersebut berdampak sangat jelas pada komoditas minyak nabati dan gula.
Pada Maret 2026, indeks harga minyak nabati FAO melonjak 5,1 persen dari Februari ke level 183,1 poin.
Kenaikan ini menjadi pertumbuhan bulanan ketiga secara berturut-turut hingga membuat harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Lonjakan harga minyak mentah ikut memicu permintaan bahan baku biofuel.
Situasi ini terus berlanjut pada April dengan indeks harga minyak nabati yang kembali meningkat 5,9 persen.
Hal ini didorong oleh prospek permintaan sektor biofuel yang disokong tingginya harga minyak mentah dunia.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, memberikan penjelasan mengenai situasi yang menekan pasar internasional tersebut.
>>> Pemerintah Integrasikan Telur Peternak Jawa Timur ke Program Makan Bergizi Gratis
"Minyak nabati mengalami kenaikan harga yang lebih kuat, sebagian besar didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi, yang meningkatkan permintaan bahan bakar nabati dan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak nabati," terang Torero.
Sektor gula juga ikut bergejolak dengan kenaikan indeks harga FAO sebesar 7,2 persen pada Maret.
Kondisi ini dipengaruhi ekspektasi bahwa Brasil akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk etanol ketimbang gula akibat tingginya harga minyak.
Konflik Geopolitik Memperparah Ketidakpastian
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperparah stabilitas harga pangan global.
Gangguan di sekitar Selat Hormuz memicu ketidakpastian pada pasar energi dan pupuk yang mendongkrak biaya produksi pertanian.