Perusahaan teknologi antariksa SpaceX bersiap melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) dengan kode emiten SPCX di bursa Nasdaq pada pekan ini.
Langkah korporasi ini diperkirakan bakal mengguncang pasar modal Amerika Serikat (AS).
>>> Bursa Saham Asia Menguat Didorong Pemulihan Sektor Teknologi
Pemilik SpaceX, Elon Musk, melepas 555 juta lembar saham dengan harga penawaran sebesar 135 dollar AS atau sekitar Rp 2,4 juta per lembar.
Melalui aksi korporasi ini, perusahaan menargetkan pengumpulan dana awal sebesar 75 miliar dollar AS (Rp 1,35 kuadriliun) yang berpotensi meningkat hingga 85,7 miliar dollar AS (Rp 1,6 kuadriliun).
Valuasi kapitalisasi pasar SpaceX yang menyentuh angka 1,75 triliun dollar AS (Rp 31,6 kuadriliun) memicu sentimen positif di kalangan pemodal.
Tingginya nilai kapitalisasi tersebut diproyeksikan akan membawa dinamika tersendiri bagi pergerakan saham di bursa saham AS.
"Yang berbeda kali ini adalah volatilitas terkait SpaceX akan disertai dengan kapitalisasi pasar terbesar yang pernah terlihat dalam IPO Amerika Serikat (AS)," jelas kepala strategi derivatif ekuitas AS BNP Paribas, Greg Boutle.
Aktivitas penghimpunan dana ini dinilai membutuhkan strategi matang agar target penawaran awal dapat terserap sepenuhnya oleh pasar.
Menurut estimasi, SpaceX dapat mengumpulkan dana sebesar 30 miliar dollar AS atau setara Rp 542 triliun dengan mudah, tetapi angka 75 miliar dollar AS memerlukan upaya yang jauh lebih besar.
"Kami pikir banyak aliran dana SpaceX yang berdiri sendiri mungkin masih bisa dicerna. Masalahnya adalah banyak dari aliran dana ini berpotensi searah dan bersifat aditif," katanya.
>>> Helikopter Apache AS Jatuh Dekat Selat Hormuz, Pilot Selamat
Daya tarik IPO SpaceX juga diperkuat oleh keberhasilan operasional perusahaan yang telah meluncurkan roket pembawa 10.000 satelit Starlink ke orbit bumi.
