Konflik sejak Februari 2026 telah menekan produksi OPEC hingga 16,13 juta barel per hari pada Mei 2026, level terendah dalam dua dekade akibat anjloknya ekspor Iran.
Kondisi pasar diperparah oleh menyusutnya cadangan minyak mentah domestik AS sebesar 7,2 juta barel pada pekan pertama Juni 2026.
Total penyusutan mencapai 79 juta barel sejak konflik bermula.
Chief Economist Annex Wealth Management Brian Jacobsen menilai pergerakan pasar saat ini sangat bergantung pada kecepatan penyelesaian krisis di Timur Tengah.
Waktu terus berjalan untuk solusi diplomatik atau militer guna membuka kembali Selat Hormuz.
Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya menegaskan pemulihan stabilitas harga bahan bakar global hanya bisa dicapai melalui resolusi konflik dengan Iran.
>>> Kemenkes Apresiasi Capaian Tertinggi Program Cek Kesehatan Gratis di Jawa Tengah
Arus distribusi di Selat Hormuz harus kembali berjalan normal.
