Dengan kata lain, modernisasi kapasitas keamanan laut, penguatan kehadiran di Malaka dan Natuna, hingga pembangunan postur maritim yang lebih tangguh bukan lagi semata agenda pertahanan, melainkan konsekuensi logis dari ekspansi kepentingan ekonomi strategis Indonesia.
Di sinilah titik yang kerap diabaikan.
Kapitalisasi chokepoint bukan hanya soal memperoleh keuntungan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana keuntungan itu ditransformasikan menjadi leverage geopolitik dan, pada akhirnya, menjadi fondasi kekuatan nasional.
Kapitalisasi Chokepoint
Meski begitu, kita juga perlu menginsyafi bahwa kapitalisasi chokepoint pada akhirnya selalu terkait dengan kekuatan (power).
Tidak ada pemain besar dalam jalur strategis dunia tanpa dukungan hard power politic yang memadai. Dalam konteks ini, Indonesia membutuhkan keberanian diplomatik.
Dan di sinilah kemitraan strategis dengan China layak dipertimbangkan. Bukan sebagai bentuk ketergantungan.
Tetapi sebagai bargain strategis. China membutuhkan pengurangan risiko atas Malacca Dilemma.
Indonesia membutuhkan lompatan industrial.
Di sini, kepentingan kedua negara bisa bertemu. Jika dikelola cerdas, kerja sama ini justru dapat memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan kekuatan besar, bukan melemahkannya.
Apalagi Indonesia tetap dapat menjaga prinsip keseimbangan dengan tetap membuka keterlibatan Timur Tengah, Jepang, bahkan mitra Barat.
Pada titik ini, yang diperlukan bukan keberpihakan, tapi kecerdikan memainkan posisi. Namun strategi sebesar ini tentu tidak cukup dipikirkan sebagai proyek ekonomi.
Ia harus diperlakukan sebagai grand strategy negara.
Setidaknya ada lima prasyarat: Pertama, pembentukan special energy economic zone di Sumatera bagian utara; Kedua, pembangunan joint refinery dan petrochemical complexes dengan mitra global; Ketiga, pembiayaan jangka panjang melalui Danantara; Keempat, penguatan kapasitas keamanan maritim di Malaka dan Natuna; dan Kelima, diplomasi trilateral yang cermat dengan Malaysia dan Singapura agar transformasi ini dipahami sebagai penguatan ekosistem regional, bukan ancaman.
