"Saya cukup bersemangat. Saya belum pernah menonton Piala Dunia sebelumnya, tetapi tahun ini saya akan menontonnya," katanya.
Warga lain bernama Husna menilai bahwa kehadiran turnamen di kota besar seperti Los Angeles akan membantu masyarakat untuk lebih mengenal dan mulai menonton pertandingan.
"Karena sekarang ada di LA, orang-orang akan mengetahuinya dan mulai menonton," ujarnya.
Meski bersemangat, baik Isaiah maupun Husna mengakui bahwa mereka belum mengetahui siapa lawan pertama tim nasional AS di fase grup.
Sementara itu, seorang pemuda bernama Mahon sudah menyiapkan agenda nonton bareng dan berusaha mengajak teman-temannya yang bukan penggemar sepak bola untuk ikut mendukung tim nasional mereka.
"Kami sangat bersemangat. Kami mencoba mengajak teman-teman yang tidak mengikuti sepak bola untuk mendukung Tim USA," katanya.
Menurut Mahon, popularitas sepak bola di AS kini kemungkinan sudah melampaui baseball. Namun ia meyakini olahraga tersebut masih belum mampu menyaingi American football maupun basket.
"Orang-orang akan mulai tertarik," ujarnya.
Keluhan Suporter Asing dan Mahalnya Harga Tiket
Kurangnya atensi warga lokal turut dirasakan oleh suporter asing, salah satunya pendukung Skotlandia yang kembali lolos setelah absen 28 tahun.
Saat mendarat di Boston menjelang laga melawan Haiti, mereka mendapati banyak warga setempat yang tidak tahu jika Piala Dunia sedang berlangsung.
"Saya baru saja mengirim surat dan petugas bertanya mengapa saya berada di Amerika. Dia mengira saya sedang berlibur.
Padahal saya mengenakan jersey Skotlandia. Dia bahkan tidak tahu Piala Dunia sedang berlangsung," kata seorang anggota Tartan Army, kelompok suporter Skotlandia.
Faktor lain yang menjadi kendala utama bagi masyarakat domestik untuk terlibat langsung adalah tingginya harga tiket pertandingan.
Untuk laga pembuka tim nasional AS, tiket paling murah dijual seharga 1.120 dollar AS atau berkisar Rp 18 juta.
