⌂ Beranda News Skill Mismatch Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Skill Mismatch Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Skill Mismatch Ancam Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Ilustrasi ketidaksesuaian keahlian pekerja dengan kebutuhan industri
A A Ukuran Teks16px

Kondisi struktural ini memicu inefisiensi pasar tenaga kerja serta menekan produktivitas individu maupun ekonomi makro secara keseluruhan sesuai teori job-skill mismatch.

Persoalan struktural ini ditandai oleh ketidakcocokan tingkat pendidikan formal pekerja dengan kualifikasi umum yang dibutuhkan pada posisi pekerjaannya.

Fenomena ini terbagi dua, yakni overeducated ketika kualifikasi pekerja lebih tinggi dari syarat jabatan, serta undereducated saat kualifikasi pekerja berada di bawah standar.

>>> Biaya Ballroom Gedung Putih Membengkak Jadi Rp 10,6 Triliun

Ketidaksesuaian pendidikan dan pekerjaan di kalangan muda ini terus menjadi kendala serius bagi kesejahteraan personal sekaligus produktivitas nasional.

Ancaman Terhadap Produktivitas Nasional

Yusuf Rendy Manilet, Peneliti Ekonomi di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, berpendapat bahwa masalah ini sudah bergeser menjadi persoalan produktivitas nasional.

"Ketika jutaan lulusan pendidikan tinggi tidak terserap pada pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya, ekonomi kehilangan potensi output yang seharusnya dapat dihasilkan oleh tenaga kerja tersebut," ucap Yusuf.

Yusuf menilai potensi kerugian ekonomi dihitung dengan membandingkan produktivitas pekerja sesuai kualifikasi terhadap pekerja yang menganggur atau bekerja di bawah keahliannya.

Secara sederhana, kerugian timbul dari selisih produktivitas saat lulusan perguruan tinggi gagal memanfaatkan kompetensinya karena menganggur atau salah penempatan kerja.

Secara agregat, nominal kerugian dihitung dengan mengalikan total tenaga kerja yang mengalami mismatch dengan rata-rata produktivitas sektor formal yang sesuai.

"Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya output saat ini, tetapi juga hilangnya akumulasi keterampilan, inovasi, dan pendapatan yang seharusnya tercipta dalam jangka panjang," terang Yusuf.

Yusuf memproyeksikan masalah ketidaksesuaian keterampilan yang masif ini akan memperlambat langkah Indonesia untuk keluar dari middle income trap.

"Bonus demografi hanya akan menjadi mesin pertumbuhan apabila penduduk usia produktif mampu bekerja pada sektor yang menghasilkan produktivitas tinggi," ucap Yusuf.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM