Penumpukan tenaga kerja terdidik di sektor berproduktivitas rendah atau sektor pengangguran akan membalikkan bonus demografi menjadi beban demografi.
Negara dirugikan karena kehilangan momentum peningkatan produktivitas, sementara investasi pendidikan dari pemerintah maupun rumah tangga tidak memberikan imbal balik optimal.
"Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan pada level menengah dan sulit melakukan lompatan menuju negara berpendapatan tinggi," tutur Yusuf.
Dampak Finansial Tidak Langsung
Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, ikut memaparkan metode umum untuk mengukur dampak fenomena ini terhadap perekonomian.
Langkah paling jamak dilakukan adalah menghitung selisih antara upah normatif sesuai tingkat pendidikan dengan upah aktual yang diterima pekerja di bidang lain.
Aparatur perencana dapat melihat dampak langsung terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) setelah nilai selisih tersebut diakumulasikan secara nasional.
"Namun, dampak tidak langsungnya juga masih perlu dihitung," ucap Suhindarto.
Koreksi pendapatan pada kategori pekerja ini otomatis menurunkan daya beli serta konsumsi rumah tangga yang berujung pada efek domino terhadap PDB.
Tantangan Kesenjangan Lapangan Kerja Pemuda
Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional penduduk usia 15 tahun ke atas konsisten turun sepanjang periode 2017-2024.
Angka pengangguran terbuka turun dari posisi 5,56 persen pada 2017 menjadi berada di level 4,91 persen pada Februari 2024.
Meskipun demikian, rincian data menunjukkan indikasi masalah yang lebih mendalam pada kelompok usia muda.
Pada 2024, TPT pemuda tercatat menyentuh 12,24 persen atau melampaui dua kali lipat dari persentase pengangguran terbuka nasional.
Tren pengangguran kelompok muda ini bahkan sempat melonjak mendekati 15,7 persen pada 2020 akibat imbas pandemi yang membatasi pembukaan lapangan kerja baru.
Kesenjangan lebar antara TPT nasional dan TPT pemuda memperlihatkan ketidakselarasan pertumbuhan lapangan kerja dengan kebutuhan angkatan kerja baru.
Para lulusan baru dari pendidikan menengah maupun tinggi kerap terjebak dalam masa transisi akibat minim pengalaman, kesenjangan keahlian, dan keterbatasan akses informasi kerja.
>>> Pangsa Pasar ChatGPT Turun di Bawah 50 Persen untuk Pertama Kali
Penurunan angka pengangguran makro belum menyelesaikan masalah utama, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan yang layak dan sesuai untuk generasi muda.
