⌂ Beranda News Trump dan Pezeshkian Tanda Tangani Kesepakatan di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Trump dan Pezeshkian Tanda Tangani Kesepakatan di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Trump dan Pezeshkian Tanda Tangani Kesepakatan di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Trump dan Pezeshkian menandatangani kesepakatan
A A Ukuran Teks16px

Sementara itu, Rowena Binti Abdul Razak, dosen School of Oriental and African Studies di London, menilai kesepakatan ini sebagai perkembangan awal yang positif.

"Ini adalah awal dari apa yang kami harapkan menjadi perjanjian damai yang lebih panjang antara Amerika Serikat dan Iran.

Ini akan meredakan banyak ketegangan yang selama ini meningkat di kawasan maupun di luar kawasan," ujarnya kepada DW.

Ia menambahkan, ketegangan di kawasan juga berdampak luas, termasuk pada harga dan stabilitas energi global. "Krisis energi tidak hanya memengaruhi pemerintah, tetapi juga masyarakat biasa.

Jadi untuk saat ini, setidaknya ada sedikit kelegaan di berbagai pihak," katanya.

Namun Macron juga memberi catatan hati-hati soal prospek jangka panjang kesepakatan tersebut. "Apakah ini menyelesaikan semuanya?

in2

Tidak. Apakah ada risiko?

Ya," ujarnya kepada wartawan.

Kesepakatan AS-Iran Masih Interim, Belum Mengikat Penuh

Meski kerangka kesepakatan antara Amerika Serikat Donald Trump dan Iran disambut sebagai langkah awal, sejumlah pihak menilai belum ada kesepakatan yang benar-benar final.

Perdebatan soal istilah seperti treaty (perjanjian), memorandum, hingga communique biasanya menjadi ranah diplomat.

Namun dalam kasus ini, perbedaan tersebut dianggap penting karena menyangkut status sebenarnya dari kesepakatan yang diumumkan.

Intinya, menurut sejumlah pengamat, belum ada "deal" yang benar-benar mengikat.

Yang ada saat ini baru kesepakatan sementara untuk menghentikan pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya terdampak konflik.

Dengan kata lain, kesepakatan ini lebih merupakan upaya merespons situasi perang yang sudah terjadi, bukan mengembalikan kondisi seperti sebelum konflik.

>>> Jadwal Libur Kenaikan Kelas 2026 di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi

"Pemerintah AS sebenarnya bisa mendapatkan kesepakatan yang lebih baik, tetapi ada dorongan untuk segera membuka Selat Hormuz," kata Miad Maleki, peneliti senior di Foundation for the Defense of Democracies di Washington, kepada DW.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru