Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan kemandirian militer negaranya setelah mendapat kritik tajam dari Amerika Serikat karena menolak kesepakatan damai dengan Iran.
Penolakan itu terjadi setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri pertempuran di semua front, termasuk Lebanon.
>>> Pantai Gading Siap Hadapi Jerman di Piala Dunia 2026
Katz menyatakan bahwa Israel memiliki kemampuan penuh menghadapi musuh di Timur Tengah tanpa melibatkan militer sekutunya.
"Tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan," kata Katz, seperti dilansir dari Detikcom.
Ia memperingatkan Teheran mengenai potensi balasan militer jika Iran menyerang Israel.
"Jika Iran menyerang kami, kami akan bertindak segera dan merespons dengan kekuatan. Tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami telah membuktikannya," ujar Katz.
Ia menambahkan bahwa semua kemampuan militer Israel ada dan sedang dibangun, sehingga dapat merespons segera atau bertindak kemudian.
Katz merinci bahwa militer Israel sanggup beroperasi secara mandiri di beberapa wilayah konflik sekaligus.
"Kami tidak pernah meminta AS untuk berperang bersama kami melawan Hizbullah di Lebanon, melawan elemen jihadis di Suriah, atau melawan Hamas di Gaza.
Kami melakukannya sendiri," tegasnya.
Meski demikian, Israel tetap mengharapkan dukungan diplomatik dari Washington, bukan dukungan militer.
>>> PLN Pulihkan Pemadaman Listrik Bergilir di Pulau Jawa
"Kami mengharapkan, dan masih mengharapkan, bahwa AS akan mendukung hak kami dan memberikan kami payung diplomatik, bukan payung militer, untuk bertindak melawan semua musuh ini," ujar Katz.
Ia juga menegaskan bahwa pasukan Israel tidak akan mundur dari zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza dalam situasi apa pun.
Sikap keras Israel langsung mendapat respons negatif dari Wakil Presiden AS JD Vance.