Tingginya suku bunga saat ini mempersulit pelaku usaha perhotelan dalam mengakses pembiayaan.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi mereka yang berencana mengajukan pinjaman untuk ekspansi bisnis, renovasi, atau membuka usaha baru.
>>> PT Pakerin Krisis Operasional, 2.500 Pekerja Terancam PHK
Maulana, seorang pelaku usaha, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga akan menambah kesulitan dalam mengambil pinjaman.
Selain itu, kondisi pasar yang belum stabil menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan kredit.
Banyak pelaku usaha perhotelan kini lebih memilih strategi bertahan dengan mengoptimalkan aset yang ada. Fokus utama adalah pemeliharaan fasilitas untuk menjaga kualitas layanan tanpa menambah beban investasi baru.
>>> Kemenkeu Luncurkan Fitur Perdana untuk Perkuat Pengawasan Dana Daerah
Strategi ini dianggap lebih realistis mengingat ketidakpastian pasar dan tingginya biaya pendanaan. Beberapa hotel bahkan terpaksa melakukan pengurangan tenaga kerja akibat penurunan tingkat hunian.
Daya Beli Masyarakat dan Tren Perjalanan
Asosiasi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga menyoroti daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.
Biaya perjalanan yang relatif tinggi menjadi faktor yang menahan minat masyarakat untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
>>> BRI Finance Pangkas Beban Pencadangan 4,01% per Mei 2026
Meskipun demikian, PHRI melihat peluang dari wisatawan domestik yang memilih destinasi lebih dekat. Tren perjalanan jarak pendek atau lintas provinsi berpotensi menopang okupansi hotel di tengah tantangan ekonomi.
