El Nino terbentuk ketika beberapa gelombang Kelvin ini terjadi selama berbulan-bulan, menyebabkan akumulasi air hangat.
Josh Willis, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, menyatakan bahwa fenomena tahun ini mulai mengejar ketertinggalannya dibandingkan El Nino besar pada 2015 dan 1997, meskipun dimulai sedikit lebih lambat.
Peningkatan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur dapat mengubah sirkulasi atmosfer global, termasuk menggeser aliran jet yang memengaruhi jalur badai.
Akibatnya, beberapa wilayah bisa mengalami hujan atau salju lebat, sementara yang lain menjadi sangat panas dan kering.
Dampak El Nino bervariasi tergantung kekuatannya. El Nino moderat seperti pada 2018 dan 2023 cenderung menyebabkan kekeringan dan banjir di sekitar Pasifik tropis.
Sementara itu, El Nino kuat seperti 2015-2016 memiliki dampak lebih luas, termasuk kekeringan di Afrika dan banjir besar di California.
Fenomena El Nino umumnya mencapai puncaknya antara November dan Januari. Dampak penuhnya pada tahun ini diperkirakan baru terlihat dalam beberapa bulan mendatang.
>>> Alasan Ilmiah di Balik Dominasi Sepatu Bola Pink di Piala Dunia 2026
Severine Fournier, peneliti permukaan laut JPL, menambahkan bahwa setiap El Nino unik, namun fenomena ini hampir selalu menyebabkan tahun yang lebih panas dan perubahan curah hujan yang signifikan di berbagai belahan dunia.