Akibat cuaca ekstrem tersebut, sekolah ditutup, layanan kereta terganggu, jaringan listrik mengalami tekanan, dan rumah sakit menerima lonjakan pasien.
Otoritas di sejumlah negara juga mengeluarkan peringatan merah.
Menurut para ilmuwan, gelombang panas yang melanda Eropa kali ini tidak bisa dilepaskan dari dampak perubahan iklim.
Kelompok peneliti World Weather Attribution menyebut suhu ekstrem seperti yang terjadi pada Juni 2026 nyaris mustahil terjadi beberapa dekade lalu tanpa pengaruh pemanasan global.
Eropa sendiri merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Kejadian seperti ini diperkirakan akan semakin sering terjadi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya juga mengingatkan bahwa gelombang panas yang dahulu dianggap langka kini mulai menjadi kejadian tahunan.
"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, gelombang panas yang dulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun.
Kita sebenarnya sudah diperingatkan," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Perbandingan suhu antara Paris dan Makkah menjadi gambaran bahwa perubahan iklim mulai mengubah pola cuaca global.
>>> Fabio Quartararo Ucapkan Salam Perpisahan untuk Yamaha
Kota-kota yang selama ini dikenal beriklim sejuk kini dapat mengalami suhu setara, bahkan melampaui wilayah gurun yang identik dengan panas ekstrem.