Pemerintah mengungkap operator satelit nasional tengah mengembangkan satelit Low Earth Orbit (LEO).
Proses pengajuan orbit dan frekuensi satelit tersebut telah diajukan ke International Telecommunication Union (ITU).
>>> Zlatko Dalic Pamit dari Timnas Kroasia Setelah 9 Tahun
Hal itu disampaikan Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adis Alifiawan, di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Menurut Adis, peran Komdigi adalah memfasilitasi pengajuan slot orbit dan spektrum frekuensi satelit ke ITU. Sementara pembangunan satelit menjadi tanggung jawab operator.
"Ada permohonan dari operator satelit kita, dan sudah kami proses ke ITU. Peran kami membantu proses itu dan memfasilitasinya di tingkat internasional," kata Adis.
Ia menjelaskan, pengembangan satelit LEO tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi maupun pendanaan.
Ada proses koordinasi internasional yang harus dilalui agar sistem satelit baru tidak mengganggu satelit milik negara lain.
"Meluncurkan satelit bukan hanya soal memiliki modal untuk membeli dan meluncurkan. Ada proses koordinasi satelit agar sistem yang dibangun kompatibel dengan sistem lain dan tidak menimbulkan interferensi.
Itu membutuhkan waktu," ujarnya.
Adis mengatakan, berdasarkan ketentuan ITU terdapat regulatory period sekitar tujuh tahun sejak pengajuan hingga satelit harus diluncurkan.
Karena itu, meski proses administrasi telah berjalan, operator Indonesia belum akan meluncurkan satelit LEO dalam waktu dekat.
>>> Prancis Puji Kekuatan Maroko Jelang Perempatfinal Piala Dunia 2026
"Kalau tahun ini belum. Prosesnya memang membutuhkan waktu karena ada tahapan koordinasi internasional," katanya.
Meski demikian, ia memastikan ada operator nasional yang sedang mengembangkan rencana tersebut.
Saat ditanya siapa operator yang dimaksud, Adis menyebut pengajuan berasal dari operator satelit domestik seperti PSN dan Telkomsat.
Namun, ia enggan menjelaskan lebih jauh mengenai target peluncurannya dan menyarankan pertanyaan tersebut disampaikan langsung kepada masing-masing operator.
Adis juga meluruskan anggapan bahwa satelit LEO identik dengan layanan Starlink.
Menurutnya, LEO hanyalah istilah untuk orbit satelit pada ketinggian sekitar 300 hingga 2.000 kilometer dari permukaan Bumi.
"Kita sering mempersepsikan LEO itu seolah hanya Starlink. Padahal LEO adalah jenis orbit, dan Indonesia sebenarnya sudah memiliki satelit yang berada di orbit rendah," ujarnya.
Ia berharap semakin banyak operator nasional yang memanfaatkan orbit rendah untuk mengembangkan layanan satelit di masa depan.
>>> Meccha Chameleon Tembus 15 Juta Penjualan dalam 25 Hari
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki peran lebih besar dalam industri satelit global.
