Beberapa perusahaan yang sempat memecat karyawan untuk digantikan kecerdasan buatan (AI) kini menyesali langkah tersebut. Mereka kembali merekrut manusia setelah menyadari bahwa AI tidak bisa menyelesaikan semua masalah.
Ford menjadi salah satu perusahaan yang berbalik arah.
>>> Dua Petinju Putri Indonesia Lolos Final Asian Boxing U-19 & U-23 2026
Perusahaan otomotif itu mempekerjakan kembali ratusan insinyur berpengalaman untuk menangani masalah kualitas yang tidak bisa diselesaikan sistem otomatis.
"AI tool luar biasa, tapi ia hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," kata Charles Poon, vice president of vehicle hardware engineering Ford.
CBA dan IBM Kembali ke Manusia
Commonwealth Bank of Australia (CBA) tahun lalu memberhentikan lebih dari 40 staf layanan pelanggan dan menggantinya dengan bot suara AI.
Namun, sistem AI tersebut tidak mampu mengatasi permintaan, sehingga meningkatkan jumlah panggilan.
Akibatnya, CBA membatalkan pemangkasan staf. "Membuat CBA membatalkan pemutusan hubungan kerja ini adalah sebuah kemenangan besar," kata serikat pekerja sektor keuangan Australia.
CBA mengakui tidak mempertimbangkan semua pertimbangan bisnis yang relevan saat mengumumkan PHK.
Sementara itu, IBM mengganti fungsi SDM-nya dengan AI yang menangani 94% tugas rutin, tetapi gagal memenuhi 6% sisanya yang sering mencakup dilema etis.
IBM kemudian mengumumkan rencana melipatgandakan perekrutan manusia.
"Jika kita tidak terus berinvestasi pada rekrutmen tingkat pemula, apa yang akan terjadi dalam 3-5 tahun ke depan?"
>>> Persija Rekrut Radovan Pankov, Pemain Serbia Ketiga dari Balkan
kata kepala SDM IBM, Nickle LaMoreaux.
Klarna dan Pelajaran dari AI
Perusahaan Klarna pada 2024 bermitra dengan OpenAI dan memangkas departemen layanan pelanggan serta pemasaran.
CEO Sebastian Siemiatkowski menyebut AI sudah bisa melakukan semua pekerjaan manusia, dengan penghematan USD 10 juta.
