Microsoft melaporkan lonjakan laba pada kuartal terakhir, namun divisi game mereka, Xbox, justru mengalami penurunan pendapatan yang cukup dalam.
Pendapatan konten dan layanan Xbox dilaporkan anjlok 10%, sementara konsol Xbox turun 13%. Di sisi lain, biaya operasional justru meningkat 8%.
>>> Sah! Randal Kolo Muani Gabung Juventus dengan Kontrak Lima Tahun
Secara keseluruhan tahun fiskal, pendapatan Xbox menurun sebesar USD 1,7 miliar atau 7%. Penurunan ini didorong oleh lemahnya penjualan konten, layanan, dan perangkat keras Xbox.
Meskipun pertumbuhan Game Pass mampu mengimbangi sebagian penurunan tahunan, penjualan perangkat keras mengalami kontraksi sebesar 29%.
Investasi dan Penurunan Nilai Aset
Kepala Keuangan Microsoft, Amy Hood, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh investasi besar dalam penelitian dan pengembangan, serta adanya penurunan nilai aset.
Akibatnya, pendapatan operasional menurun 14% dan margin operasional merosot 21%.
Kondisi finansial yang kurang baik ini menjadi pemicu pemangkasan besar-besaran di Xbox, yang diperkirakan akan berdampak pada 1.600 karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam 12 bulan ke depan.
>>> Rizky Ridho Pede, Indonesia Dominan Atas Vietnam Jelang Piala AFF 2026
CEO Xbox yang baru, Asha Sharma, mengindikasikan adanya perubahan strategi investasi, termasuk pemangkasan studio-studio kecil dan fokus pada franchise besar seperti The Elder Scrolls dan Fallout.
Kinerja keuangan yang buruk ini terjadi setelah Microsoft menggelontorkan lebih dari USD 70 miliar untuk mengakuisisi Activision Blizzard pada 2023.
Selain itu, kenaikan harga konsol Xbox yang berulang, seperti Xbox Series X yang kini seharga USD 750 atau naik 33% sejak peluncuran, turut membebani konsumen.
Di tengah tantangan ini, Xbox berupaya meluncurkan konsol baru bernama Project Helix.
>>> Harga Pixel 11 Bocor, Naik Rp1,8 Juta dengan Spesifikasi Dipangkas
Namun, laporan menyebutkan setiap penjualan konsol baru ini masih merugi, menyulitkan upaya Xbox untuk merebut kembali pangsa pasar.
