⌂ Beranda News Kabar Buruk: Bumi Memanas Makin Cepat, Studi Terbaru Ungkap Percepatan

Kabar Buruk: Bumi Memanas Makin Cepat, Studi Terbaru Ungkap Percepatan

Kabar Buruk: Bumi Memanas Makin Cepat, Studi Terbaru Ungkap Percepatan
Ilustrasi: Kabar Buruk: Bumi Memanas Makin Cepat, Studi Terbaru Ungkap Percepatan
A A Ukuran Teks16px

Pemanasan global diduga telah memasuki fase yang lebih cepat.

Analisis terbaru menunjukkan laju kenaikan suhu Bumi dalam sekitar satu dekade terakhir meningkat jauh dibandingkan empat dekade sebelumnya.

>>> John Herdman Rasakan Kekalahan Kedua Latih Indonesia

Penelitian yang dipimpin ilmuwan dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Jerman, menemukan bahwa sejak sekitar 2015, Bumi memanas dengan laju sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade.

Sebagai perbandingan, pada periode 1970-2015 laju pemanasan global berada di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters dan disebut sebagai bukti statistik pertama yang menunjukkan bahwa pemanasan global benar-benar mengalami percepatan.

"Kini kami dapat menunjukkan adanya percepatan pemanasan global yang kuat dan signifikan secara statistik sejak sekitar 2015," kata Grant Foster, ahli statistik asal Amerika Serikat sekaligus salah satu penulis studi, dikutip dari Science Daily.

Menyaring Pengaruh Alami

Para peneliti menjelaskan bahwa suhu Bumi dari tahun ke tahun dipengaruhi berbagai faktor alami yang dapat menutupi tren pemanasan jangka panjang.

Misalnya, El Nino dapat membuat suhu global melonjak sementara karena melepaskan panas dari Samudra Pasifik tropis ke atmosfer.

Sebaliknya, letusan gunung api besar bisa mendinginkan Bumi untuk sementara dengan menyebarkan partikel yang memantulkan sinar Matahari. Perubahan aktivitas Matahari juga turut memberikan pengaruh meski relatif kecil.

Untuk melihat tren sebenarnya, tim peneliti 'membersihkan' data suhu global dari pengaruh faktor-faktor alami tersebut.

Mereka menganalisis lima kumpulan data suhu global yang banyak digunakan, yakni NASA, NOAA, HadCRUT, Berkeley Earth, dan ERA5.

Hasilnya konsisten di semua basis data.

>>> Ferran Torres Mau Bertahan di Barcelona Asalkan Syarat Ini Dipenuhi

"Kami menyaring pengaruh alami yang telah diketahui dari data pengamatan sehingga 'gangguan' dapat dikurangi dan sinyal pemanasan jangka panjang menjadi jauh lebih jelas terlihat," ujar Foster.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM