⌂ Beranda News Saran GSMA: Indonesia Wajib Maksimalkan 5G Ketimbang Kejar 6G
News

Saran GSMA: Indonesia Wajib Maksimalkan 5G Ketimbang Kejar 6G

Saran GSMA: Indonesia Wajib Maksimalkan 5G Ketimbang Kejar 6G
Saran GSMA: Indonesia Wajib Maksimalkan 5G Ketimbang Kejar 6G
A A Ukuran Teks16px

Indonesia dinilai belum perlu terburu-buru mengejar jaringan 6G yang sedang dipersiapkan oleh sejumlah negara maju.

GSMA menyatakan bahwa pekerjaan rumah yang jauh lebih penting saat ini adalah memaksimalkan penggunaan jaringan 5G.

>>> Bumerang PHK Massal Zoom, Mantan CEO Better Kehilangan Jabatannya

Langkah tersebut diperlukan agar teknologi seluler generasi kelima itu memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

Standar 6G diperkirakan baru akan terbentuk sekitar tahun 2028 dengan kehadiran jaringan komersial pertama pada 2030.

Pasar telekomunikasi di negara yang paling maju seperti Korea Selatan diproyeksikan menjadi yang pertama mencobanya.

Fokus utama saat ini adalah memastikan monetisasi serta mengubah 5G menjadi transformasi ekonomi yang bermakna.

Indonesia perlu membangun ekosistem inovasi yang memanfaatkan latensi rendah serta kapasitas besar dari 5G.

Penerapan teknologi baru ini diharapkan dapat merambah sektor industri seperti pabrik, pelabuhan, dan bandara.

GSMA memperkirakan sekitar sepertiga populasi di Indonesia akan mulai menggunakan 5G pada akhir dekade ini.

Jaringan 4G diproyeksikan tetap menjadi tulang punggung telekomunikasi dengan menyumbang sekitar 70% koneksi.

Indonesia saat ini masih berada dalam fase pembangunan fondasi infrastruktur 5G yang membutuhkan investasi berkelanjutan.

>>> Marc-Andre Ter Stegen Gusur Maarten Paes Berkat Kemampuan Build-up

Tingkat adopsi yang terlihat lebih rendah tidak serta-merta membuat Indonesia bisa langsung dicap lambat.

Pemanfaatan spektrum yang sudah tersedia menjadi salah satu langkah awal yang diambil oleh operator seluler lokal.

Pelepasan spektrum baru melalui lelang dinilai dapat menjadi titik awal penting untuk mempercepat pengembangan.

Tingkat adopsi ternyata bukan satu-satunya ukuran keberhasilan karena tidak semua konsumen membutuhkan layanan 5G.

Tantangan harga perangkat ponsel pintar 5G yang masih tinggi turut memengaruhi kecepatan penetrasi di pasar.

Koneksi 5G di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan mencapai 1,5 miliar atau setengah dari seluruh koneksi pada 2030.

Operator seluler diperkirakan menggelontorkan belanja modal yang besar untuk membangun infrastruktur jaringan.

Perjalanan menuju generasi seluler berikutnya di Indonesia tidak akan terjadi dalam satu kali lompatan besar.

>>> Langkah Tegas Chelsea Kurangi Skuad Gemuk Lewat Latihan Terpisah

Operator telekomunikasi masih harus melalui tahapan 5G Standalone dan 5G Advanced terlebih dahulu.

📰 Update Terbaru
STIKIBOTOM