Blokade wilayah perairan ini serta rusaknya fasilitas produksi utama di Timur Tengah memaksa negara-negara importir mencari pasokan alternatif.
Dalam 100 hari terakhir, volume ekspor minyak mentah dari Amerika Serikat tercatat mengalami lonjakan.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, memaparkan beberapa faktor yang menahan kenaikan harga minyak agar tidak melonjak terlalu ekstrem di pasar internasional.
"Ini termasuk pelepasan Cadangan Minyak Strategis, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia yang masih berada di laut, pengurangan impor minyak China, rute alternatif untuk mengirim minyak dari Teluk Persia ke Asia dan Eropa, peningkatan ekspor minyak mentah dan produk olahan AS, dan akhirnya, penghancuran permintaan," urai dia.
Tamas Varga memperingatkan jika cadangan minyak terus merosot sepanjang Juni hingga menyentuh batas kritis, perebutan pasokan akan menaikkan harga melampaui 100 dolar AS.
"Sangat penting agar Selat Taiwan dibuka kembali sesegera mungkin untuk mengurangi kekurangan pasokan dan, akibatnya, tekanan inflasi," tambah Varga.
Tekanan Inflasi Global Mulai Terasa
Dampak nyata dari pertempuran ini mulai merembet ke sektor riil di luar pasar keuangan.
Kenaikan harga gas, bensin, minyak, hingga bahan bakar jet akibat tingginya biaya energi telah mendongkrak angka inflasi di sejumlah negara maju.
Di Amerika Serikat, indeks harga konsumen pada bulan April menyentuh angka 3,8 persen secara tahunan, menjadi rekor tertinggi dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir.
Seratnya pasokan dari Timur Tengah diidentifikasi menjadi pemicu utama lonjakan tersebut.
Situasi ini memaksa adanya intervensi kebijakan dari pemerintah di beberapa negara, termasuk Jerman dan India.
Direktur Pelaksana Kingswood Group, Paul Surguy, mempertanyakan apakah pelaku pasar saat ini sudah mulai terbiasa dan mati rasa terhadap konflik geopolitik berskala global.
"Yang kita lihat adalah dukungan terhadap perang di AS berada pada titik terendah sepanjang masa, pendanaan militer berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan kedua belah pihak jelas-jelas mencari jalan keluar yang menyelamatkan muka," ujar dia.
"Hal ini, dan bukan situasi saat ini, kemungkinan besar akan berdampak pada harga minyak dalam jangka panjang.
>>> Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Mindanao, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami
Tidak ada yang ingin berada di sini dalam enam bulan ke depan," tutup dia.