⌂ Beranda News Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Serangan Baru Israel ke Lebanon

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Serangan Baru Israel ke Lebanon

Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Serangan Baru Israel ke Lebanon
Grafik harga minyak Brent dan WTI naik
A A Ukuran Teks16px

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel pada perdagangan awal Asia, Senin (8/6/2026).

Kenaikan ini dipicu oleh serangan baru Israel ke Lebanon yang meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.

>>> Puspresnas Rilis Tata Tertib OSN-K 2026, Peserta Wajib Taat

Minyak mentah Brent naik 2,33 dolar AS atau 2,5 persen menjadi 95,42 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 2,10 dolar AS atau 2,32 persen ke posisi 92,64 dolar AS per barel.

Pergerakan ini menghapus sebagian besar pelemahan harga pada Jumat pekan lalu. Saat itu pasar sempat optimistis terhadap peredaan ketegangan antara AS dan Iran.

Serangan terbaru Israel menjadi hambatan baru bagi tercapainya kesepakatan damai. Iran sebelumnya mensyaratkan gencatan senjata di Lebanon untuk berdamai dengan AS.

Situasi ini menambah ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur distribusi krusial bagi minyak dan gas global.

Iran sempat meluncurkan rudal ke Israel sebagai respons atas serangan di Beirut yang menargetkan Hizbullah.

Militer Israel telah menginvasi Lebanon sejak Maret lalu akibat serangan roket dan drone.

>>> Satgas PASTI Tangkap Ketua Koperasi BLN Terkait Dana Ilegal

Padahal, Israel dan Lebanon baru saja mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada 3 Juni 2026 setelah perundingan di Washington.

Presiden AS Donald Trump menyatakan akan meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran.

Hal ini demi menjaga stabilitas perdagangan energi.

Ketidakpastian pasokan global kian membayangi akibat pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.

Meskipun OPEC+ telah menyepakati kenaikan produksi pada hari Minggu, langkah tersebut merupakan kenaikan keempat dalam empat bulan terakhir.

Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon menilai kebijakan penambahan suplai OPEC+ kurang efektif.

"Dalam kondisi pasar saat ini, dampak nyata dari keputusan tersebut terhadap pasokan fisik hampir mendekati nol," kata Leon.

>>> BMKG Terbitkan Peringatan Dini Tsunami Pascagempa M 7,7 di Sulawesi Utara

Sejumlah analis lain juga menilai tambahan produksi tidak akan banyak memengaruhi pasokan dunia. Sebagian besar anggota OPEC+ masih kesulitan memenuhi target kuota produksi mereka.

I
Tim Redaksi
Penulis: Indah Novitasari
📰 Update Terbaru